Gadis Cianjur

Rena, gadis berusia 20 tahun asal Cianjur. Bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga demi mencari kehidupan dan penghasilan di luar negeri. Tubuhnya sedang, kulitnya putih dan halus, wajahnya bersih, matanya baik, bicaranya sopan dan suaranya pilu.
Setelah hampir setahun bekerja untuk majikannya yang tinggal di apartment, hari itu dia menjaga dan menemani anak-anak majikannya di loby lantai dasar. Dia sadar bahwa ada seorang pria di seberang jalan yang terus memandangnya. Tidak lama pria itu datang mendekat berusaha berkenalan dan berkata;
“Nama saya Anif. Kalau kamu ada masalah atau ingin jalan-jalan telpon saya saja ya… ayo catat nomor saya.” Rena langsung mengambil pulpen. Karena tidak ada kertas, dia mencatat nomor telpon Anif di balik lengannya. Mungkin juga supaya tidak ketahuan majikannya.

Seminggu kemudian, di sore hari, Ena merasa sumpek seharian karena dimarahi oleh majikannya yang sedang bad mood. Setelah jam 7 malam, majikannya keluar membawa anak-anaknya. Ena pun mempunyai kesempatan untuk menelpon Anif yang terlihat suka pada dirinya.
Anif senang sekali mendapat telpon dari Rena dan langsung meminta supaya Rena turun saja karena dalam 10 menit dia mau jemput dan ngobrol-ngobrol di luar. Rena setuju sebab dirinya juga memang sudah sumpek sekali tidak pernah kemana-mana.
Anif datang dan parkir dekat apartment sedangkan Rena sudah berada di bawah dan langsung diminta naik ke mobil. Rena naik dan Anif langsung injak gas. Sambil jalan mereka ngobrol dengan bahasa yang saling memahami sekedar saja.

Rena: “Kemana kita?”
Anif: “Kamu mau kemana..?
Rena: “Gak tahu saya..terserahlah kamu mau ajak kemana.”
Anif: “ Iya saya juga gak tau. Pokoknya kita jalan-jalan sajalah.”
Tiba-tiba Anif belok ke suatu tempat yang sangat sepi dan gelap.
Rena: “Kemana nih?..kok gelap banget ..ehh kamu mau bawa aku kemana..?
Anif berhenti parkir dan tanpa banyak omong dia lompat ke belakang, menggenggam kedua lengan Rena, mendorongnya dan menyelantangkannya. Rena teriak-teriak meminta tolong. Anif menampar keras sambil kata, “Diam…diam kamu!!” Opera pemerkosaan pun dimulai. Rena yang memakai longdress seperti daster itu hanya diangkat oleh Anif, celana panjangnya ditarik, celana dalamnya dirobek, kedua pahanya dibuka lebar dan ditahan dengan dengkul. Anif mengeluarkan organnya dan tanpa menggunakan apapun langsung memaksa mendobrak vagina Rena. Rena merintih kesakitan tanpa ada suara berbentuk kata yang terdengar. Suara jeritan dan rintihan itu berbunyi seperti seorang yang tertiban batu besar namun tak ada daya. Muncratlah sudah air dosa ke dalam perut Rena. Batu yang meniban itu pun bangun, kembali ke kursi muka, menarik nafas panjang, meminta supaya Rena memakai kembali baju-bajunya lalu langsung menyetir arah balik.

Rena diturunkan di dekat apartmentnya. Dia telah keluar demi membuang kesumpekan dan membawa harapan, namun tak disangka dia malah harus kembali membawa duka dan trauma yang sangat menyakitkan.

Hari demi hari berlalu, peristiwa tidak ada yang tahu. Rena hanya berbicara ke dalam hati sementara mulut bungkam tak dapat menyalahkan dan tak dapat membenarkan.

Lima bulan kemudian Rena merasa lemas terus menerus, sering mual dan muntah-muntah. Majikan pun mulai menegur dan menanyakan ada apa. Mereka mau membawa Ena ke rumah sakit, namun Ena meyakinkan tidak perlu dia hanya masuk angin saja. Rena bingung sekali dan ketakutan, tidak tahu harus berbuat apa… kalau sampai ke RS pasti kan ketahuan bahwa dia hamil..dan masalahnya akan bertambah besar nanti. Malam hari Rena tidak bisa tidur. Dari jam sembilan dia sudah berbaring namun tidak kantuk melainkan kepalanya pusing memikirkan jalan keluar. Akhirnya dia mendapat ide. Dia cari nomor Anif yang sudah lama dia salin ke sebuah kertas. Nomor ketemu, dia segera menghubungi Anif demi meminta pertanggungan jawabnya..pokoknya Anif harus bisa memberi solusi.
Anif terkejut mendapat kabar telpon Rena. “Ya sudah tidak usah khawatir. Sekarang saya datang, kamu siap-siap ya.”
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Rena menyelinap keluar rumah dan turun. Anif datang membawa mobil yang sama. Rena naik. Anif langsung jalan sambil menanyakan kebenaran bahwa dia bisa menjadi seorang ayah. Sementara itu Rena berfikir untuk menjaga anak dan membawanya pulang ke tanah air. Dia meminta supaya Anif membantu agar supaya dia bisa pulang sebelum dia malu pada majikan dan bermasalah dengan aparat. Mereka berunding dan Anif berusaha menenangkan seraya mengatakan pasti akan dia usahakan.
Setelah beberapa block, Anif berkata “Saya mau jemput kawan sebentar.” Dia telpon lalu berhenti, kemudian temannya yang mengenakan sarung dan kaos oblong keluar dan ikut naik ke mobil.
Mobil langsung berjalan, Rena tidak tahu pastinya mau dibawa kemana. Harapannya dia bisa dikasih tempat sementara oleh Anif sambil diusahakan supaya bisa cepat pulang. Pokoknya jangan sampai ketahuan oleh majikan.
Di tengah perjalanan Anif memberi Rena air minum dari botol kecil yang sudah terbuka. Rena minum.. beberapa menit kemudian dia mulai hilang kesadaran lalu pingsan.
~~~
Sekitar dua jam kemudian, Rena tiba-tiba terbangunkan oleh rasa sakit yang luar biasa. Dia terkejut melihat dirinya sudah telanjang bulat, terlentang tak bertenaga sama sekali sementara sekujur tubuhnya sakit dahsyat, khususnya perutnya. Sebegitu sakitnya sehingga dia langsung merintih-rintih bahkan sebelum dapat membuka matanya. Dia melek memaksa membuka kedua matanya dan melihat dirinya telanjang di sebuah gubuk terbuat dari kayu-kayu renggang di tengah padang hampa..kanan kiri kosong hanya ada tiupan angin yang membawa pasir menyepoy-nyepoy wajahnya. Dia melihat pakaiannya terkumpul di pojok ruangan. Rena mulai menggelengkan kepalanya demi melihat ada apa di sekitar ruangan belakang kepalanya… dia melihat Anif jongkok dan temannya duduk membasuh tangan di air ember.
Melihat Rena sudah bangun Anif berkata, “Sudah, itu masalahmu sudah kami selesaikan. Anakmu sudah gugur dan kami sudah keluarkan janinnya.” Rena langsung teriak sekeras sisa tenaganya. Rasa sakit sekujur tubuhnya itu pun hilang diganti dengan rasa sakit yang menikam-nikam jiwanya..hatinya hancur, rintihan dan teriakan telah menjadi melodi luka dan duka nan bernyanyi melantunkan lagu siksa.
Karena Rena tidak berhenti menangis, merintih dan menjerit-jerit, Anif dan kawannya keluar tak kuat mendengar.
Alunan suara rintihan Rena telah menyatu dengan suara riuk angin berdebu saksi siksa duka bagai musik kenangan yang menyayat gubuk hati seorang manusia yang tak berdaya.
Setelah 2 jam Anif dan kawannya kembali dan suara-suara yang mengganggu mereka itu sudah reda. Kini mereka masuk dan melihat tubuh wanita terlentang telanjang sendiri tanpa tertutupi sehelai kain. Tak ada saksi, hanya mereka berdua berdiri enggan duduk memandang tubuh yang terlihat semakin indah. Rena melotot ketakutan akan apa yang akan mereka perbuat lagi.. terlintas di benaknya bahwa dia pasti akan dibunuh dan ditinggal tanpa ada yang tahu.
Anif membuka celananya, duduk dengan lututnya lalu membalikkan tubuh Rena. Dia mengangkat tinggi salah satu kaki Rena lalu mulai memperkosanya dari duburnya. Rena tak bertenaga sama sekali, tak ada yang dapat dia lakukan kecuali menangis dan bernyanyi bersama sepoi angin mengulang irama duka musik derita.
Setelah Anif selesai, kawannya datang membersihkan pantat Rena dengan kain, lalu dia pun melakukan hal yang sama.
Setelah semua selesai, mereka mamakaikan pakaian Rena lalu menggendongnya naik ke dalam mobil. Setelah setengah jam lebih perjalan, Rena diturunkan di stasiun dekat laut dan diberi uang yang hanya cukup untuk naik taksi lalu ditinggal.
Rena naik taksi dan meminta supaya diantar ke kantor polisi terdekat. Sampai dikantor polisi dia laporkan semua kejadian.

Ketika ditanya, “Kalau kamu memang sudah diperkosa dari pertama, mengapa kamu menghubungi dia lagi sehingga kamu diperkosa dua kali..?
Jaksa juga bertanya seperti itu karena dari hasil investigasi menjadi jelas bahwa sebenarnya Rena sempat jalan dengan Anif dua kali..yang pertama seminggu setelah kenalan dan yang kedua setelah dua bulan peristiwa pertama.
Rena menjawab, “Iya saya tidak kenal siapapun selain dia dan saya berharap dalam pertemuan kedua dia meminta maaf dan berusaha menjadi lebih baik karena kasihan pada saya.”
Investigator: “Lalu ketika kamu hamil dan setelah semua yang dia lakukan terhadapmu kenapa kamu masih menelpon dia..?
Rena: “iya saya berharap supaya dia bertanggung jawab dan berfikir karena mau punya anak. Lagi pula saya tidak mungkin cerita kepada siapapun.”
Investigator: “Siapa namanya?”
Rena: “Dia mengakunya Anif.”
Investigator: “Kalau kawannya itu?”
Rena: “Tidak tahu.”
Investigator: “Berapa usianya kira-kira.?”
Rena: “Sekitar 25 tahunan… kawannya juga sama.”
Dan seterusnya. Prosecutor meminta Rena mengingat semua ciri-ciri yang dilihatnya dari tubuh hingga mobil. Sayangnya Rena tidak memperhatikan nomor mobil, ataupun jenis mobil apa. Setelah lama ditanya dan membandingkan warna bentuk dan lain-lain dengan semua gambar yang ada akhirnya jaksa dapat mengetahui jenis mobil Anif.. namun tetap tidak mudah untuk mendapatkannya tanpa nomor. Walau Demikian, prosecutor dengan tegas memerintahkan polisi untuk mencari dengan giat agar Anif bisa ditangkap secepat mungkin.

Setelah 3 hari dari berlalunya investigasi, Rena dipanggil untuk datang kembali.

Jaksa: “polisi sudah menangkap beberapa tersangka. Kami akan panggil satu demi satu dan kamu tunjukkan yang mana Anif… tapi kamu harus pasti tidak perlu ragu-ragu dan tidak perlu takut sama sekali.”

Setelah dipanggil satu persatu, ternyata tiada satu pun yang dikenal Rena. Tidak Anif tidak juga kawannya.

Jaksa pun meminta polisi untuk segera membebaskan para tersangka.

Rena diminta untuk tetap duduk karena ada beberapa hal yang ingin ditanyakan lagi.

Jaksa: “Rena, saat itu kamu katakan berapa lama kamu sudah hamil..?
Rena: “Sekitar lima bulan.”

Kami: “kemarin telah ditemukan mayat bayi berusia enam bulan di sebuah tong sampah di dekat industrial area. Mungkinkah itu bayi kamu..?
Rena: “saya tidak tahu. Sebagaimana yang sudah saya katakan bahwa saya tidak melihatnya sama sekali. Ketika sadar janin itu sudah tidak ada.”

Jaksa enggan menjelaskan kepada Rena bahwa sebenarnya menurut dokter ahli kriminologi bayi yang ditemukan itu pada awalnya masih hidup ketika dikeluarkan dari perut ibunya namun meninggal karena lehernya yang mungil itu disembelih. Tetapi belum pasti juga itu adalah janinnya.

Catatan kejadian tahun 2009 dan nama-nama bersangkutan bukanlah nama aslinya.

About these ads

5 comments on “Gadis Cianjur

  1. Anonymous mengatakan:

    Astaghfirullaaaah, koq adaaaaa siii kejadian biadab bginii ? trus gimana proses hukumnya? la’nat beribu2 la’nat.

  2. Anonymous mengatakan:

    minta,poto,nya

  3. Anonymous mengatakan:

    Minta no pe nya boleh ga

  4. Anonymous mengatakan:

    aku suka kamu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s