Dan Langit Pun Menangis

10 Muharram 1431.

Pra Nainawa

AlHusain menyaksikan datuknya yang tercinta Muhammad sang utusan Allah meninggal dunia memenuhi panggilan Tuhannya.

Masa berjalan mempertontonkan mayoritas masyarakat yang kebingungan bagaikan domba tanpa gembala.

Tokoh-tokoh sibuk dengan khilafa dan siapa yang harus berkuasa.

Ayahnya (Ali) dikhianati oleh orang-orang tuli dan yang tak peduli wasiat Nabi padahal baru saja mereka dengar tadi pagi.

alHusain Hidup dalam Rumah wahyu yang sekarang terkucilkan, terancam, tertuntut, teraniaya.

Sosok-sosok yang selayaknya dibai’at ternyata diteror untuk bai’at. Dan ayahnya pun memilih hidup jauh dari arena daulat, enggan terlibat, hanya melihat dan tidak banyak dilihat, bahkan tidak menjadi Imam Shalat. Hanya terkadang diminta untuk memberi nasihat.

Jasad mereka tetap sehat sedangkan ruh terasa ingin cepat-cepat berangkat menyusul ayah, datuk, sepupu, dan guru yang bernama Muhammad sang pembawa berkat.

Iya Ummat banyak yang sudah berkhianat, sebagian tokoh pun berani mengundang laknat.

alHusain…

menyaksikan rumahnya hampir dihancurkan dan dibakar. Ibunya Fathima sosok yang paling dicintai oleh Rasulullah kini harus menahan rasa sakit akibat luka yang membiru menusuk sisi perutnya dengan rasa malu karena tahu bahwa itu adalah daging sang ibu kekasih kalbu Muhammad.

Duhai ibu, mengapa sebagian makhluk yang mengaku sebagai umat ayahmu adalah palsu.

Semoga tidak termasuk saya dan kamu.

alHusain ada…

Tatkala Muhsin gugur di sana.lalu beliau harus menyaksiakan kesedihan ibunya Fathima sehingga tak sampai setahun sang ibu menyusul Rasul tercinta dalam keadaan kesal terhadap dunia dan menitipkan anak-anak pada Sanga Maha Kuasa. Innaa lillaah wa inna ilayhi raaji’uun.

alHusain…

Sekarang hidup tanpa ibu, bersama ayah (Ali) yang maju ke atas kursi kelabu dengan mata penuh debu, leher terganggu, jiwa selalu mengadu seraya memimpin ummat yang sebagian saja bersuara merdu dan berhati syahdu namun kebanyakan hanya sibuk ingin beradu.

Peperangan demi peperangan pun berlalu…

alHusain..

Tiba pada masa yang mengantar ayahnya jatuh ke pangkuannya dengan janggut yang penuh darah dan kepala yang terbelah namun jiwa tak pernah menyerah sehingga lidah mengerah mengeluarkan suara indah yang berbunyi “Fuztu wa rabbil Ka’bah”

alHusain…

Saat ini berdiri sisi demi sisi disamping saudaranya yang diuji.

Perdamaian yang melelahkan, pengikut yang berantakan karena kejahilan, musuh yang menyeramkan, janji yang terabaikan. Ummatnya ia tenangkan, pengikut ia sadarkan bahwa kebenaran bersama saudaranya yang tetap menegakkan keadilan.

Datanglah panggilan… Al-Hasanlah sekarang yang jatuh di pangkuan, air mata alHusain turun bagai hujan, diri tak tahan menyaksikan racun yang terus berjalan menggerogoti jasad saudaranya sang pahlawan.

alHusain…

Sekarang menjadi buruan. Pemerintahan Yazid menjadikannya public enemy number one. Kemana-mana dia adalah buronan. Segala tawaran muluk dia abaikan, bai’at menjadi ancaman, mustahil ia tinggalkan agama Tuhan, walau semua sudah menjadikannya sebagai mainan.. demi kekuasaan.. atau sekedar mencari aman.

AlHusain adalah tauladan yang harus menjadi symbol Kebebasan.

alHusain…

Sekarang sudah berada di Karbala.. dikepung oleh puluhan ribu “muslim” ala bani Umayyah.

Dalam kemah di tengah hening malam dia memberikan tawaran kepada mereka yang bersamanya bahwa siapa saja yang ingin meninggalkannya maka malam ini adalah waktu yang paling tepat. Mereka semua, 72 katanya, sepakat untuk bersamanya walau harus mati dan hidup dan mati lagi ratusan kali.

Kini matahari terlah terbit melotot menyaksikan satu persatu sahabat-sahabat setia gugur.

Ada yang sebegitu lihai dengan pedang sehingga tak ada yang berani mendekatinya maka ia lempar pedangnya lalu perang melawan dengan bebatuan. Ketika ditanya mengapa kau lakukan itu? dia menjawab “Ajannani hubbul Husain.” (aku telah gila dalam cintaku pada alHusain).

Ketika waktu telah memasuki dzuhur, Ada yang menaruh badan-badannya menjaga alHusain dan sahabatnya yang lain shalat di tengah kecamuknya perang. Ada teriakan kaum wanita yang menyemangati suaminya dalam membela alHusain supaya dirinya tidak malu kala bertemu dengan Sayyidah Fathima.

Duhai Karbala…

Jumlah semakin berkurang, Ahmad dan Qasim putra alHasan yang berusia 14 -16 tahun bangkit meminta izin pamannya untuk maju. Kemudian keluarlah seorang kakek yang sempat hidup semasa Rasulullah saw membawa pedang dan meminta izin berperang hingga akhirnya gugur.

alHusain…

melihat para sahabatnya satu persatu tewas..

Abbas saudaranya sang pembawa bendera pun telah pergi meninggalkan jasad terbungkus puluhan panah di suatu tempat, satu tangan menggenggam bendera yang lepas di suatu tempat dan satu tangan menggenggam kendi yang tumpah di tempat yang lain. Nafas terakhirnya bersuara memanggil “wahai Saudaraku ya Husain..” jiwanya terasa begitu berat untuk syahid karena pikirannya masih mengingat al-Husain yang sedang berdiri menahan dahaga dan duka di hadapan mata.

belum kering air mata karena saudara, kini al-husain sudah harus melihat putra tercinta Ali al-Akbar yang dikenal sebagai sosok yang paling mirip postur dan perilakunya dengan Rasulullah saw juga gugur dicincang-cincang.

alHusain…
kini seorang diri…

—-
Sekarang bayangkanlah perasaannya..!
Bayangkan jika engkau mengalami salah satu situasi berikut ini:

Bayangkan betapa sedihnya engkau pada saat datuk yang paling mencintai dan kau cintai meninggal dunia dan berwasiat untuk sabar menghadapi masa selanjutnya! walau beliau sudah mewanti-wanti dan direkam dalam ayat “laa as’alukum alayhi ajran illal mawaddata fil qurba.” (saya tidak meminta ganjaran apapun kecuali kasih sayang terhadap keluarga!) namuan ternyata yang terjadi berbeda dan seakan ayat Tuhan tak pernah disimak telinga.

Bayangkan betapa sedihnya engkau ketika Ibu.. belahan jiwamu, pelipur laramu meninggal dunia dalam duka dan usia yang sangat muda… oh Fatima.

Bayangkan betapa sedihnya engkau saat melihat ayah wafat…

bagaimana jika kau menyaksikan wafatnya karena terbunuh dan kepalanya terbelah hingga seluruh janggutnya berlumuran darah..

Bayangkan betapa sedihnya engkau jika melihat saudara kandung wafat di hadapanmu.. bagaimana jika kau melihat sekujur tubuhnya berubah warna dan gemetar dalamnya terbakar karena racun…

Bagaimana kalau kau melihat saudaramu tangan kanannya menjadi buntung, lalu tangan kirinya menghilang dan sekujur tubuhnya tertutupi anak panah dan bagian lainnya tersobek tombak..

Bayangkan betapa sedihnya jika kau melihat putra yang baru saja dewasa wafat sebelummu.. bagaimana jika kau melihat tiap bagian anggota tubuhnya telah terputus dipotong-potong…

Bayangkan betapa sedihnya jika kau menyaksikan bayimu meninggal kehausan dalam gendonganmu… bagaimana jika kau lihat lehernya terpanah kemudian tangannya yang masih mungil mengepak ngepak bagai burung yang kehilangan sayapnya..

Bayangkan jika kau melihat sahabat setiamu gugur satu persatu… bagaimana jika dalam satu hari semua sahabatmu dibunuh di hadapanmu…

Sadarilah!! Semua keadaan tersebut telah dialami seorang alHusain dalam bentuknya yang paling tragis. Dan janganlah kau heran jika langit dan seluruh penghuninya turut menangis.

—————————-
10-Muharram, saksikanlah!
Aba Abdillah alHusain kini seorang diri…

maka dengan lantang angin mengantarkan suaranya;

“Jika agama datukku Muhammad takkan berdiri kecuali dengan terbunuhnya diriku, MAKA WAHAI PEDANG-PEDANG AMBILLAH AKU.”

Ini adalah Husain putra Ali, putra Fathima, Husain putra Rasulullah saw. Pahlawan jamal, pahlawan Shiffin, pahlawan Nahrawan.. darah sang Singa Allah masih membara mengalir ke dalam setiap sudut tubuhnya.

Puluhan hingga ratusan musuh-musuh Allah pun tewas di tangannya.

Dan akhirnya Umar bin Sa’ad memerintahkan agar semua pasukan dari mulai yang berkuda, berpedang, bertombak, dan berpanah untuk menyerbunya berbarengan pada saat yang sama dari semua penjuru.

Sekarang, puluhan anak penah yang mengenai badannya terasa bagai ciuman maut yang manis, puluhan tancapan tombak terasa bagaikan usapan maut yang halus, puluhan sabetan pedang serasa bagai siraman air para malaikat.. kemudian..

Syimr bin dziljausyan yang terkutuk kini hendak memberikannya hadiah syahadah terindah yang telah lama ia nantikan…. SEMBELIHAN DAN IRISAN TERMANIS YANG TELAH IA IDAMKAN SEPANJANG HAYATNYA.
fainna lillaah wa inna ilayhi Rajiuun

Iya, ..

Husain telah wafat beribu-ribu kali jauh hari sebelumnya.

Husain telah merasakan teririsnya hati jutaan kali sebelumnya.

Husain telah merasakan sobekan tombak ratusan kali sebelumnya

Husain telah merasakan sapaan pedang sepanjang hidupnya.

“Ya Allah, telah kutinggalkan semua makhluk karena cintaku pada-Mu. Telah ku yatimkan keluargaku demi melihatmu. Maka jika tubuhku tercincang dipotong-potong, sungguh hati ini takkan berpaling dari-MU.”

Zaman pun telah bergulung menyampaikan kita semua pada masa dimana…

… alMahdi kini seorang diri…

memanggil;

Yaa li tsaaraatil Husain..

Image

One comment on “Dan Langit Pun Menangis

  1. Anonim mengatakan:

    Dan Karbalapun Menangisiku..

    Hari ini aku mampu menangis penuh duka…
    Sebab teringat cerita perjuangan mulia Baginda…
    Walaupun tiga hari, dua hari, atau bahkan semalam aku masih bisa tertawa melihat Opera Wan Jawa..
    Dan mungkin nanti malam, besok atau lusa aku sudah berada diluar sana..
    Menikmati dunia diatas mobil sambil mendengar radio, bahkan menonton televisi menyaksikan penderitaan saudaraku di Gaza…
    Sambil berleha-leha…

    Hari ini aku mampu menangis penuh duka…
    Karena terbawa suasana seperti tahun-tahun yang lalu sudah biasa…
    Mengingat pengorbanan leluhur yang begitu mulia…
    Mengejar musuh, menjunjung agama Rosul, keluarga dan para Syuhada…
    Turut terkaku lidah, terlebam mata, terluka rasa demi agama…
    Namun entah hari berikutnya masihkah terjaga jiwa…
    Ingin disambut Al-Husain dan Az-zahra tapi bergaya ala artis dunia…

    Duka diatas duka telah menimpa Baginada..
    Lara diatas Lara telah menghujami Baginda.. Derita diatas Derita telah menghujani Baginda..
    Musibah diatas Musibah telah menghinggapi Baginda..
    Ujian diatas ujian telah menghiasi Baginda..

    Dan Baginda masih mampu berkata:

    “Jika agama datukku Muhammad takkan berdiri kecuali dengan terbunuhnya diriku, MAKA WAHAI PEDANG-PEDANG AMBILLAH AKU.”

    Mereka korbankan kepentingannya untuk agama…
    Dan kita korbankan ajaran agama untuk bersaing di dunia…
    lalu bagaimana perasaan ini ketika membaca, mengingat, dan mendengar

    “Ya Allah, telah kutinggalkan semua makhluk karena cintaku pada-Mu. Telah ku yatimkan keluargaku demi melihatmu. Maka jika tubuhku tercincang dipotong-potong, sungguh hati ini takkan berpaling dari-MU.”
    (Al Husain)

    Buktikan bahwa tiap hari adalah Asyuraaaaaaaaa….!!
    Mampukah setiap saat kita tertawa didalamnya…
    Buktikan bahwa seluruh bumi ini adalah karbalaaaaaaaaa…!!
    Mampukah kita merasa nyaman dan berhayal diatasnya…

    Dan Karbalapun Menangisiku…

    @>– Mell.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s