Kenangan Malam Kemenangan

Di malam hari, setelah Nabi mulia menentukan tempat peristirahatan demi menanti hari esok yang sangat menentukan. Hari perang pertama, yang dikenal sejarah dengan perang Badar. Tepatnya malam ke-17 Ramadhan, Nabi saw melihat bahwa persediaan air sudah jauh di batas minim. Maka beliau pun bertanya, “Siapakah dari kalian yang sudi meluangkan malamnya berjalan ke sumur, dan mengambilkan air untuk kita?”

Semua diam, satu sama lain saling menunggu ada yang menjawab, karena memang malam itu, malam yang sangat dingin sekali. Semua mengetahui siapapun yang pergi akan menantang resiko cuaca yang tidak bersahabat dan bahaya lainnya yang mungkin datang siap menghadang dari balik debu-debu sahara. Tanpa banyak bicara, Ali bin Abi Thalib bangkit mengambil wadah dan beranjak pergi demi memenuhi permintaan sang Nabi.

Gelap malam telah menyelimuti gurun pasir, cuaca dingin dan angin kencang pun ikut mengukir. Seorang pria berjalan sendiri ditemani hati yang berzikir. Kedua mata melihat kegelapan langit yang masih diterangi seredup bulan dan bintang-bintang ketimbang gelap malam bumi dengan pasirnya yang tersisir.

Sampailah Ali di mulut sumur, diketahuinya sumur itu cukup dalam dan dilapisi kegelapan. Bahkan timba dan talinya pun tak ada. Ali terpaksa turun ke dalam, memenuhi wadahnya dengan air, kemudian naik dan bergegas kembali.

Dalam perjalanan baliknya, tiba-tiba ia diserbu dengan badai gurun yang sangat keras dan memaksanya untuk duduk terpaku menunggu badai henti. Setelah reda, Ali bangkit kembali dan meneruskan perjalanannya, tiba-tiba datanglah lagi serbuan badai pasir yang kedua. Ia duduk, mengencangkan tubuhnya, sampai badai itu pun reda. Ali bangkit kembali, dan melanjutkan perjalanannya, namun untuk ketiga kalinya, badai seperti semula pun kembali menyerbu. Ia duduk menahan tubuhnya dan menguatkan hatinya, hingga badai ketiga itupun berlalu melewatinya. Ali bangkit, meneruskan sisa perjalanannya, hingga ia sampai pada Nabi saw.

Sang Rasul bertanya padanya, “Mengapa engkau pergi begitu lama, wahai Ali?” Ali menjawab, “Diperjalanan aku sempat dihadang badai yang mengguncang tiga kali sehingga aku harus berdiam menantinya hilang.”

Rasul saw : “Taukah kau apa dibalik badai-badai itu, wahai Ali?”

Ali : “Tidak.”

Rasul saw : “Badai pertama adalah Jibril, mengucapkan salam atasmu disertai seribu malaikat yang juga mengikutinya mengucapkan salam terhadapmu. Yang kedua adalah Mikail, bersama seribu malaikat, mengucapkan salam atasmu, dan yang ketiga adalah Israfil bersama seribu malaikat yang memanjatkan salam atasmu. Dan mereka semua telah turun, demi memberi pertolongan kepada kami.”

Ke-esokan harinya para malaikat itu turun kembali dipimpin Jibril yang dengan senang membantu sang kekasih Tuhan mengalahkan musuhnya yang ribuan.  Badr adalah kata yang mengingatkan akan kemenangan, 17 ramadhan adalah hari yang mengingatkan akan kekuatan iman. Maka..,

Demi keindahan ayat2 suci al-Qur’an

Demi rahasia Nama2 al-Rahman

Demi hadirnya bulan pengampunan

Demi gema suara-suara azan

Demi rantai2 yg menginkat setan

Demi malam ini 17 Ramadhan

yang penuh dengan tanda keagungan

dimana umat islam diberi kemenangan

dengan Badr sebagai tanda kebesaran

perkenankan daku berdoa untukmu wahai kawan,

semoga semua amal ibadahmu terkabulkan

hatimu bercahaya lebih dari berlian

jiwamu sepenuhnya diterima oleh Tuhan

karena kembali ke fitrah di hari lebaran.

Su

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s