Maulid Kekasih Allah

baabMadina

Setiap tahun kita selalu senang menghadiri acara maulid. Khususnya di tempat2 yang sudah terkenal dan diselenggarakan oleh tokoh2 terkenal baik itu habib2, kiayi, umaro, ulama ataupun rumah2 kerabat. Namun selalu tiap kali hadir saya keluar dirundung rasa sedih karena tidak puas dengan tema yang dibahas oleh para khatib2 ternama itu. Bukan berarti kemudian saya enggan menghadiri lagi, tidak, Saya tetap selalu ingin hadir maulid. Karena

ia merayakan hari lahirnya sebaik-baik makhluk Allah, kekasih-Nya, Nabi tercinta. Sekelumit sejarahnya dibaca dan kita menyimak dengan seksama. Di sana kita mengenang ar-Rasuul saw, shalawat dan salam terus dikumandangkan, ada silatur rahmi, ada tasbih, ada tahmid, ada tahlil dan ada ekspresi tauhid kepada Allah swt.

Hanya mereka yang hatinya tertutup dan matanya buta yang tidak menyukai maulid. Tapi pada saat yg sama alangkah baiknya jika hadirin yg tidak memahami bahasa arab juga membaca terjemahnya ketika dibaca agar acara mulia itu tidak hanya berlangsung dan selesai seperti menghadiri acara ritual biasa saja.

 

Iya, saya seringnya tidak puas karena acara itu dihadiri oleh ratusan, ribuan, bahkan kadang sampai jutaan umat namun sayangnya tema yang dibahas oleh penceramah begitu lemah, begitu biasa, tidak mengilhami, tidak baru, tidak dapat dijadikan aksi dari teori, seakan mendengar seorang membaca lembaran buku yang sudah sering kita baca dari masa sd, dan sedihnya tidak dapat menambahkan pemahaman cinta kita kepada kekasih Allah. maaf, saya kata demikian bukan karena saya adalah pemuda yg lebih berilmu. Tidak, ilmu saya masih sebegitu awam, tidak jauh beda bodohnya dengan anda. Dengan jelas saya dapat melihat reaksi hadirin dari yang berpangkat hingga supir becak, mereka semua bubar dengan wajah yg sama. Iya Ini adalah fakta walau tidak mengena semua namun mayoritas iya. Umat bubar hanya berharap menggendong pahala baru,umat bubar dan kembali pada derajat minus cinta dan agama tahta memeluk fanatik buta dan berfikir gaya lama. Saya tidak tahu mengapa tema itu seringnya sebegitu datar; apakah karena penceramah2 itu terhalangi dari rujukan ilmu keluarga beliau nan disucikan Allah ataukah kwalitas berfikir mereka yang rendah? Yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika penceramah mengambil kesempatan maulid sebagai ajang kampanye, iklan, atau menanam benih permusuhan sesama umat, ia berbicara atas nama sang Nabi namun merusak wahdah umatnya, mencoreng namanya, melupakan hakikatnya, dan mengundang murkanya Astaghfirullaaah!

 

Padahal saya yakin jika setiap hari kita ingin merenungkan keagungan Rasulullah Muhammad saw maka kita kan selalu menemukan hal yang baru. Saya yakin jika kita membahas dan mencari ilmu warisan beliau saw maka sepanjang umur kita di dunia takkan pernah selesai. Dan jika setiap hari kita hendak menguak rahasia keagungannya semakin kita rasakan air segarnya semakin haus pula kita jadinya. Demi Allah, ilmu yang kita ketahui sampai saat ini mungkin hanyalah setetes dari lautan makrifatnya.

 

Mari coba kita renungkan bersama keagungan beliau dari hal-hal yang pasti sudah kita ketahui dan kita kerjakan tiap hari lalu kembangkan dan matangkanlah maklumat itu. Anda mungkin saja seorang pedagang yg sibuk, dokter, buruh, pilot, supir, pelayan, insinyur ataupun lainnya sehingga anda tidak sempat mendalami filsafat islam atau belajar teologi tahunan dan harus memahami banyak istilah2, tapi saya yakin anda tidak bisa lari dari kesimpulan memahami hal-hal yang pasti kita sama2 ketahui berikut ini;

 

Dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman;

“Dahulu Aku adalah harta karun yang tersembunyi dan tidak dikenal , maka Aku ciptakan makhluk agar Aku dapat dikenal.”

Dalam hadis Qudsi lain Allah berfirman; “law laaka lama khalaqtul aflaaka’ kalau bukan karenamu wahai Muhammad maka takkan Kuciptakan alam ini.”

 

Dari dua hadis tersebut saja kita dapat memahami bahwa sebab wujud kita adalah untuk mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun dan dari seluruh makhluk-Nya yang sampai pada ma’rifatullah sesuai ilmu Allah dan sebagaimana yang Ia kehendaki untuk dikenal adalah Rasulullah Muhammad sawoleh karenanya Allah katakan kalau bukan karenamu wahai Muhammad takkan kucipta alam ini.

ingatlah saat Rasulullah saw sakit lalu masuk memeluk satu kain (al-Kisaa) bersama putrinya yg tercinta Fathimah, sepupu, menantu, anak angkat sekaligus muridnya Ali, beserta kedua putra mereka cucunya yaitu al-Hasan dan al-Husain maka di langit terdengarlah firman Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung: “Wahai malaikat-malaikat-Ku, wahai para penghuni langit-Ku, sungguh tidak Aku ciptakan langit mapan terbentang, bumi terlentang, bulan bersinar, matahari bercahaya, planet beputar, lautan mengalir dan kapal berlayar kecuali karena kecintaan terhadap mereka berlima yang berada dalam selimut itu.”

 

Dengannya juga kita fahami bahwa

seluruh makhluk yang hidup bergelimang dengan segala kenikmatan yang ada dan telah diberikan Allah semenjak lahirnya sebenarnya berhutang budi dan bahkan bergantung pada eksistensi Rasulullah saw.

Allahumma Shalli alayh wa ‘alaa aalih!

 

Mungkin saja banyak pohon, batu, hewan dan dedaunan yang lebih mengenal rasul ketimbang kita. Al-Rawandi meriwayatkan bahwa, “Ketika Nuh alayhi salam naik bahtera, dia enggan memasukkan kalajengking bersamanya. Maka kalajengking itu berkata, ‘Aku berjanji kepadamu bahwasanya aku tidak akan menyengat seorang pun yang mengucapkan ‘Salamun ‘ala Muhammad wa aali Muhammad wa ‘ala Nuhin fil ‘alamin (Kesejahteraan dilimpahkan atas Muhammad dan keluarga Muhammad dan atas Nuh di seluruh alam).’”

Jadi jangan heran mengapa shalawat kepada beliau sebegitu dianjurkan dan diberi ganjaran berlipat-lipat ganda oleh-Nya. “Barangsiapa megucapkan shalawat kepadaku sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”kata Nabi.

Lihatlah ketika Allah menganjurkan umatnya untuk bershalawat kepada baginda rasul saw, Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung memulai dengan diri-Nya demi mengisyaratkan pada penghormatan, kecintaan-Nya terhadap sang rasul dan keagungan kekasihnya; Innallaaha wa malaaikatahu yushalluuna ‘alan nabi, yaa ayyuhal ladziina aamanu shallu ‘alayhi wa sallimuu tasliima!!   “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuknya…” (QS. Al Ahzab: 56)/b> Allahumma shalli wa sallim ‘alayh wa ‘ala aalih.

 

Sadarkah kita bahwa tiap kali kita shalat, bukan hanya saja kita wajib bershalawat kepada beliau saw namun bahkan sebelum mengakhirinya kita harus mengucapkan salam secara langsung kepada beliau saw; Assalaamu ‘alayKA ayyuhan nabi wa rahmatullahi wa baraakaatuh salam atasmu wahai nabi.. yang berarti bahwa setiap orang shalat menghadap Allah, pasti Rasulullah saw juga ada di sana menerima shalat dan menjawab salam kita. Dengan kata lain,

ketika kita menghadap Allah, maka kita juga pada saat yang sama selalu menghadap rasulullah saw

Allahumma shalli ‘alayh wa ‘alaa aalih.

 

 

Semoga dengan sekelumit ma’lumat di atas kita dapat tergugah untuk lebih meresapi maulid, mendalami keagungan Sang kekasih Allah dan menyerap ajaran2nya. Saya akhiri note ini dengan dialog singkat antara Allah dengan ar-Rasuul saw saat beliau Mi’raj ke langit:

 

Allah Swt: “wahai Muhammad untuk siapakah alam semesta ini?

Nabi saw: “untukku”,

Allah Swt: “untuk siapakah kau?

Nabi saw: “untuk-Mu”

Allah Swt: “lalu untuk siapakah Aku ini?

Nabi saw terdiam dan tidak menjawab.

Maka Allah SWT berfirman, “Aku adalah untuk orang-orang yang selalu bershalawat kepadamu.”

Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s