Ada apa di balik Mimpi ?

Mimpi menurut ilmu jiwa adalah cermin diri. Semua yg dilihat seseorang di alam mimpi menggambarkan kecendrungan, angan2, atau hasrat tersembunyi yang menunjukkan kondisi jiwa seseorang.
Mimpi menurut agama ada 3; Shadiqah (mimpi benar yg biasanya terlihat di waktu sahar sebelum subuh atau saat tidur siang sebentar) yang bisa jadi ia adalah berita gembira dari Allah untuk hambanya yg beriman. Kaadzibah (mimpi bohong) atau bisa juga ancaman atau gangguan dari setan, dan bunga tidur saja.

Mimpi menurut agama itu lebih jelas dan lengkap dengan table waktu dan adab2 yg berpengaruh akan kebenaran mimpi namun tidak berarti apa yg dinyatakan ilmu jiwa itu salah semua. Ada hadis dari riwayat dari al-Shadiq yg menyatakan bahwa “mimpi yg benar dan yg tidak sumbernya adalah satu, yaitu hati, ..” 

Ketika jiwa masih terikat dengan jasad di saat terjaga, ia tidak dapat memperoleh pengetahuan dari alam lain. Maka dari itu ketika dia tidur dan semua indra jasmani beristirahat, dia dapat memperoleh pengetahuan dan perjalanan di alam lain. Semua yg dilihatnya saat itu masuk ke khayal, dan khayal memilih bentuk dan gambar yg kemudian dia transfer ke memory (gambar2 itulah yg mempunyai arti sendiri dan memerlukan ta’biir dan penjelasan) sementara akal masih istirahat. Sedangkan saat terjaga, ilmu yg diperoleh indra akan diproses akal dan bisa tersimpan dalam hati. 

Dalam sebuah riwayat, Sayyidina Ali menjawab pertanyaan Umar bin Khattab berkenaan dengan ayat 42 surat az-Zumar beliau menjawab; 
فالله يتوفى الأنفس كلها فما رأت و هي عنده في السماء فهي الرؤي
ا الصادقة، و ما رأت إذا أرسلت إلى أجسادها تلقيها الشياطين في الهواء فكذبتها و أخبرتها بالأباطيل فعجب عمر من قوله. (… sesungguhnya Allah mewafatkan semua jiwa (saat tidur atau mati) maka apa saja yg dilihatnya saat berada di langit itu adalah yang shadiqah/benar dan apa saja yg dilihatnya ketika dikirim kembali ke jasadnya maka itu adalah propaganda khabar dusta setan dengan kebatilan. dan Umar pun takjub dengan jawaban Ali.) Jelas, ruh kita tidak keluar secara sempurna saat tidur, karena jika dia keluar secara sempurna dan lepaslah ikatan ruh dengan jasad secara total maka itu berarti wafat. al-Shadiq menjelaskan bahwa hal itu adalah seperti matahari yg berada di tempatnya sedangkan sinarnya sampai pada tempat terjauh, begitupun juga ruh saat tidur, ia masih terikat dengan jasad namun geraknya bisa sampai langit. 

Yang menarik dan baru saja saya fahami adalah bahwa dengan hadirnya Nabi Muhammad saw terhentilah segala mimpi yang bersifat memberi petunjuk yg berpengaruh terhadap perjalanan suatu umat manusia, atau mimpi yg berpengaruh terhadap syariat dan kabar penting untuk umat.
Tidak seperti masa sebelumnya, semenjak masa Nabi saw pengetahuan dan petunjuk bagi umat hanyalah bersumber dari wahyu dan akal. Dan mimpi sifatnya menjadi personal saja. Pada masa sebelum Rasulullah, mimpi adalah ‘sangat big deal’ bagi umat terdahulu khususnya mimpi orang2 besarnya..seperti yg diisyaratkan al-Qur’an dalam kisah Yusuf as menafsirkan mimpi raja Akhnatun. Karena memang sejarah perjalanan akal manusia belum sempurna dan belum sebegitu berpengalaman sehingga mimpi menjadi salah satu sumber pemberitahuan dan tidak khusus kepada para Nabi saja.

Nabi Yusuf adalah pencetus tafsir mimpi pertama dan Imam Ali Zainal Abidin adalah yang pertama menyebarkan tafsir mimpi dalam sejarah Islam dan Ibnu Sirin adalah muridnya. Namun menurut al-Muhaqqiq Sayyid Muhammad Hasan Tarhini, Ibnu Siirin tidak memiliki buku yang disusun sendiri olehnya. Semua buku yg ada di pasar saat ini adalah disusun oleh orang lain di masa setelahnya. Menurutnya juga yang ada dalam buku2 tafsir mimpi tidak bisa dijadikan sandaran pasti. Mungkin dia hanya dapat membantu memahamkan sebagian rumus-rumus gambar made in khayal tersebut tetapi tidak harus pasti benar karena bergantung juga pada detail yg dilihat dan situasi pribadi pemimpi. 

Alhasil, kata Imam Ja’far kepada salah seorang muridnya,“fikirkanlah wahai Mufaddhal, bagaimana Allah mengatur mimpi sehingga yg benar dapat terpisah dari yg bohongnya. Jika semua mimpi itu benar maka semua manusia bisa jadi nabi, dan jika semuanya dusta maka tidak ada manfaatnya melainkan bagai sebuah anugerah yg tak berarti. Karena itulah ia kadang benar dan kadang tidak, agar manusia dapat mengambil maslahat dari petunjuknya dan menjauhi apa yg diperingatkannya. Namun seringnya ia dusta supaya manusia tidak sepenuhnya bersandar pada mimpi.”

Itu semua adalah sekilas maklumat yg kami ketahui tentang mimpi, namun ada hal yg ingin sekali kami fahami dan kaji lebih jauh agar menjadi jelas; yaitu

bagaimana hubungan mimpi dengan hati.. karena pasti antara keduanya ada hubungan yg lumayan erat.???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s