Menembus ruang dan waktu bersama Jibril

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Isra’: 1)

Buraq itu agak melawan ketika hendak dikendarai oleh Muhammad ibnu Abdillah saw karena mungkin masih belum kenal. Jibril langsung menepuknya dan berkata, “Diamlah wahai Buraq, tiada seorang pun yang menunggangimu sebelum atau sesudahnya yang lebih mulia daripada dia.”
Di malam hari itu, Jibril membawa kekasihnya sesuai perintah Allah dari Mekkah ke Masjidil Aqsa dengan Buraq yang menembus kecepatan waktu dan melintasi tempat-tempat istimewa. “Kami terbang tidak terlalu tinggi namun Jibril memperlihatkanku keajaiban-Nya dari langit dan bumi.” Kata Nabi saw.
Di tengah perjalanan tiba-tiba JIbril berhenti dan meminta Rasulullah saw untuk shalat dan beliau pun shalat.
“Tahukah dimana engkau shalat tadi?” tanya Jibril. “tidak “ kata Nabi.
“Engkau shalat di tanah Thiba yang mana ia adalah tanah muhajarahmu.”
Mereka meneruskan perjalanan dan tiba-tiba Jibril berhenti dan meminta Rasulullah saw untuk shalat lagi.
“Tahukah dimana engkau shalat?” tanya Jibril. “tidak “ kata Nabi.
“Engkau shalat di Thur Sina tempat di mana Allah berbicara kepada Musa as.”
Dan mereka meneruskan perjalanan hingga Jibril meminta Nabi berhenti dan shalat lagi.
“Tahukah dimana engkau shalat tadi?” tanya Jibril. “tidak “ kata Nabi.
“Engkau shalat di Beytlehem, dekat Baytul Maqdis, tempat kelahiran Isa putra Maryam as.”
Kemudian mereka meneruskan perjalanan hingga sampai di Bayt al-Maqdis. “Lalu kami turun dan mengikat Buraq dengan tali yang biasa digunakan para Nabi sebelumku untuk mengikatnya. Kemudian aku masuk bersama Jibril di sampingku. Aku bertemu Ibrahim, Musa, Isa dan para Nabi lainnya sesuai kehendak Allah.”
Ternyata di sana sudah berkumpullah ruh para nabi sebelumnya, yang menurut riwayat jumlah mereka sampai 44.414 nabi. Mereka telah berkumpul semua menyambut dan mengucapkan salam kepada sang nabi terakhir, Rasulullah Muhammad bin Abdillah saw, Sang kekasih Allah.
Hal utama yang mereka ingin lakukan adalah bersama mengucapkan syukur dan menyembah Sang Maha Pencipta , bersimpuh syukur di hadapan-Nya. Mereka hendak menunaikan shalat berjamaah. Jibril maju dan mengumandangkan adzan. Suatu peristiwa yang luar biasa. Duhai betapa indahnya jikalau kami juga dapat bergabung bersama dan shalat di belakang mereka. “ Saya tidak ragu bahwa pasti Jibrillah yang akan mengimami kami semua.” Kata Nabi saw. Namun selesai adzan, Jibril mengambil tangan Rasulullah seraya berkata, “Engkau harus maju, wahai Rasulullah (untuk menjadi imam).”
Rasulullah saw sebegitu tawaddunya, sebegitu merendahnya, sebegitu kecil melihat keagungan dirinya, sebegitu ringan melihat keberatan keutamaannya, sebegitu menurun melihat ketinggian derajatnya dihadapan Allah dan para nabi-Nya. Beliau bertanya untuk memastikan, “Aku harus maju?”
Jibril as menjawab, “Sungguh, semenjak Allah ciptakan cahayamu, tiada mungkin bagi kami semua untuk maju darimu.”
Dan shalat jamaah terindah sepanjang masa pun terlaksana.

Allahumma Shalli ala Muhammad wa Ali Muhammad

“Setelah itu, aku naik (mi’raj) bersama Jibril ke langit. Di sana ada malaikat yang dipanggil Ismaeel Shahibul Khatfah (penjaga pencuri berita langit) yang disebut Allah Azza wa Jalla; Akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang . Dan di bawahnya ada 70 ribu malaikat, dan masing-masing malaikat itu membawahai 70 ribu malaikat lainnya. Ismaeel bertanya pada Jibril, ‘Siapakah yang bersamamu?’ , ‘dia adalah Muhammad”, “apakah dia telah diutus?’ ‘iya’ kata Jibril. Lalu dia membukakan pintu dan aku pun mengucapkan salam dan dia membalas salamku lalu aku beristighfar untuknya dan dia beristighfar untukku dan berkata, ‘Marhaban selamat datang saudaraku yang shaleh dan nabi yang shaleh.’
kemudian aku pun melintasi langit dunia dan tiap malaikat yang aku lewati terlihat ceria dan senyum bergembira melihatku hingga akhirnya aku melihat seorang malaikat yang aku tidak pernah melihat makhluk sebesar dan sangat menyeramkan seperti itu sebelumnya. Wajahnya penuh dengan amarah. Dia menyapa dan mengucapkan doa kepadaku sebagaimana malaikat lainnya tetapi dia tidak terlihat ceria atau bahkan senyum seperti malaikat-malaikat sebelumnya. Aku bertanya, ‘siapakah dia wahai Jibril? Sungguh dia benar-benar membuatku takut.’ Jibril menjawab, ‘Anda boleh takut darinya. Sungguh kami semua juga takut darinya. Dia adalah Malik penjaga neraka. Dia memang tidak pernah senyum sama sekali semenjak Allah menjadikannya penanggung jawab neraka. Tiap hari rasa kesal dan amarahnya bertambah pada musuh-musuh Allah dan orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya. Dengannya Allah membalas mereka. Dan andaikata dia bisa tersenyum tawa kepada siapapun sebelum atau sesudahmu maka pasti dia akan tersenyum melihatmu.. dia memang tidak bisa senyum.’
Maka aku memberinya salam dan dia balas seraya mengabarkan berita gembira surga untukku. Kemudian aku berkata pada Jibril yang mana dia adalah sosok yang ta’at lagi terpercaya, ‘tidakkah engkau mau memintanya agar memperlihatkan neraka padaku?’
Maka Jibril berkata, ‘Wahai Malik, perlihatkanlah neraka kepada Muhammad!’ Malik pun membuka penutup neraka dari salah satu pintunya, maka keluarlah api yang menyambar ke langit. Aku berkata , “wahai Jibril mintalah agar dia segera kembali.’ Jibril pun menyuruh Malik menutup api itu, ‘kembalilah!’ maka api itu masuk kembali.”
Rasulullah saw melihat suatu kaum yang hendak berdiri, namun tak sanggup, karena besarnya perut mereka.
Rasulullah saw : “Siapakah mereka, wahai Jibril?”
Jibril berkata : “Mereka adalah orang-orang yang suka memakan riba…”
Lalu Rasulullah saw melihat kaum yang mana dihadapan mereka terdapat hidangan-hidangan dari daging-daging yang bagus dan terlihat enak, dan juga terdapat daging-daging yang busuk. Namun mereka meninggalkan daging-daging yang baik dan hanya memakan yang busuk.
Rasullah saw : “Siapakah mereka, wahai Jibril?”
Jibril berkata : “Mereka adalah orang-orang yang suka memakan makanan yang haram dan tidak mementingkan yang halal, dan mereka adalah dari umatmu, wahai Muhammad.”
Kemudian Rasulullah melihat kaum yang memecahkan kepala-kepala mereka sendiri dengan batu.
Rasullah saw : “Siapakah mereka, wahai Jibril?”
Jibril berkata : “Mereka adalah orang-orang yang tidur meninggalkan shalat isya.”
Kemudian Rasulullah saw melihat kaum yang menunggak api dari mulut mereka, dan keluar dari dubur mereka.
Rasullah saw : “Siapakah mereka, wahai Jibril?”
Jibril berkata : “Mereka adalah orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim secara zalim.” “Dan sesungguhnya mereka memakan api ke dalam perut mereka.”
Kemudian Rasulullah saw melewati suatu kaum yang dari sisi-sisi tubuh mereka dilucuti dan dikopek daging-daging tubuh mereka, dan dituangkan ke dalam mulut mereka sendiri.
Rasullah saw : “Siapakah mereka, wahai Jibril?”
Jibril berkata : “Mereka adalah para pengumpat dan pencela.

Kemudian Rasulullah saw melanjutkan perjalanannya di langit sampai bertemu datuknya yaitu Nabi Adam as. Lalu..

“Setelah itu aku berjalan sampai aku lihat seorang malaikat yang sedang duduk sementara di pangkuannya terkumpul semua dunia dan di tangannya ada papan yang terbuat dari cahaya. Dia terus melihat kitab yang tertulis di papan itu dan sama sekali tidak menengok kanan kiri melainkan melihat yang di hadapannya dengan mimik yang sedih. Aku bertanya, ‘siapakah dia wahai Jibril?’, ‘dia adalah malaikat maut, sibuk mengambil arwah.’ aku pun meminta Jibril untuk mendekatkanku padanya. Lalu aku mengucapkan salam padanya sementara Jibril memberitahunya, ‘Ini adalah Nabi rahmat yang telah diutus Allah kepada hamba-hamba-Nya.’ Maka dia menyambutku dengan salam dan mengabarkan berita gembira, ‘Wahai Muhammad aku melihat semua kebaikan ada pada umatmu.’ Aku jawab, ‘segala puji bagi Allah Sang Penyayang, Pemberi ni’mat pada hamba-Nya. Sesungguhnya itu adalah karunia dan rahmat dari Tuhanku padaku.’ Jibril lalu menjelaskan, ‘sesungguhnya dia adalah malaikat yang paling sibuk.’ Da aku bertanya, ‘apakah semua yang wafat dan yang sudah mayyit dialah yang mengambil ruhnya?’ “iya’ katanya. Aku Tanya lagi, ‘apakah engkau melihat dimana saja mereka berada dan menyaksikannnya langung?’ ‘iya’ katanya. Lalu malaikat maut berkata, ‘Sesuai yang telah Allah perkenankan dan mudahkan untukku, maka bagiku dunia tidak ubahnya seperti koin logam di tangan pria yang dia bisa putar dan bulak balikkan semaunya. Tiada rumah kecuali aku tengok sehari lima kali. Jika ada penghuninya yang sedang menangis karena ada yang meninggal, maka aku katakan ‘tak usah kalian menangis untuknya, karena aku tetap kan kembali dan kembali lagi hingga tiada satu pun yang tersisa dari kalian’”

“Kemudian aku melihat malaikat yang Allah ciptakan sebegitu ajaib, setengah badannya dari api dan setengahnya dari es. Apinya tidak melelehkan es dan esnya tidak memadamkan api. Sementara itu dia dengan suara yang tinggi bertasbih ‘Maha suci Engkau yang mencukupkan panas api ini sehingga dia tidak melelehkan es dan mencukupkan dingin es sehingga dia tidak memadamkan api ini, Ya Allah, Wahai Engkau Penyatu api dan Es satukanlah hati hamba-hambamu yang beriman.’ Aku bertanya, ‘siapakah dia wahai Jibril?’ ‘dia adalah malaikat yang menjaga sisi-sisi langit dan batasan-batas bumi, dan dia termasuk malaikat yang paling suka menasihat penduduk bumi dari kalangan hamba-hamba-Nya yang beriman. Dia selalu berdoa sebagaimana yang engkau dengar semenjak diciptakan Allah’ jawab Jibril. Kemudian ada dua malaikat yang satu selalu berdoa, ‘Ya Allah berikanlah keuntungan bagi tiap orang yang berinfak.’ sementara yang satunya lagi terus berdoa, ‘Ya Allah buatlah rugi setiap orang yang pelit.’”
Kemudian Rasulullah saw meneruskan perjalanan dari langit ke langit selanjutnya dengan melewati segala macam keajaiban yang ada termasuk malaikat-malaikat yang tercipta dengan segala macam rupa yang bahkan sebagiannya tidak dapat diraih oleh daya imajinasi kita. Beliau juga bertemu dengan para Nabi seperti Nabi Idris, Nabi Yusuf, Nabi Harun dan lain-lainnya di tempatnya masing-masing hingga akhirnya beliau saw sampai di langit ketujuh.
“Di langit ketujuh aku melihat laut yang tercipta dari cahaya. Sebegitu bersinar sehinggga kilaunya mencuri pandangan. Juga laut yang begitu gelap dan laut yang tercipta dari es yang mengeluarkan geledek.., dan Allah menguatkan diriku dengan kekuatan-Nya dan keagungan-Nya sampai aku terus mengekpresikan kekaguman kepada Jibril (akan segala pengalaman langsung disana) hingga Jibril berkata, ‘Wahai Muhammad, apakah engkau mengagungkan segala yang telah kau lihat? Sesungguhnya semua itu adalah ciptaan-Nya maka bagaimana dengan Sang Maha Pencipta yang telah menciptakan segala yang kau lihat dan yang belum kau lihat. Sungguh yang belum kau lihat jauh lebih agung dari semua ini. Sesungguhnya antara Allah dan makhluk-Nya terdapat Sembilan puluh ribu hijab, dan makhluk-Nya yang paling dekat adalah saya dan Israfil. Sedangkan anatar saya Israfil ada empat hijab dari cahaya, dari kegelapan, dari kabut dan dari air.’”

“kemudian aku tetap meneruskan perjalanan bersama Jibril hingga aku masuk ke dalam Bayt al-Ma’muur. Aku shalat dua rakaat dan di sana juga ada sebagian dari sahabatku… kemudian aku keluar dan melihat dua sungai. Satu dikenal dengan sungai al-Kautsar dan satunya lagi sungai ar-Rahmah. Maka aku minum dari sungai al-kautsar lalu mandi di sungai ar-Rahmah.”

Perjalanan terus berlanjut hingga beliau masuk Surga dan menyaksikan tanahnya terbuat dari misk, dan pohon Thuba yang mana dari besarnya seekor burung memerlukan waktu tujuh ratus tahun lebih untuk mengelilingi batangnya saja.
“Maka ketika sudah masuk dalam Surga aku bertanya kepada Jibril mengnai lautan segala kejaibannya yang aku lihat. Dia kata, ‘lautan itu adalah paviliun-paviliun hijab dari Allah Tabaarak wa Ta’ala yang mana tanpanya akan membocorkan cahaya Arsy singgasana dan segala yang di dalamnya.”

“kemudian sampailah aku di Sidratil Muntaha dan aku melihat layer yang menaungi suatu umat dari umat-umat lain dan aku termasuk di dalamnya. Maka disitulah aku sebagaimana firman-Nya; Qaaba qausayni aw adnaa (maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat). Lalu Allah Tabaarak wa Ta’ala memanggilku; ‘Rasul telah beriman pada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya’ .
Maka aku menjawab untukku dan untuk umatku; ‘Demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya’, dan aku berkata lagi; ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’ .
Kemudian Allah berfirman lagi; ‘Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.’
Maka aku berkata; ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah.
Allah berfirman; ‘Aku takkan menghukummu.’
Aku katakan: ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.’
Allah berfirman: ‘Aku takkan membebanimu’
Aku katakan: ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.’
Maka Allah Ta’ala berfirman : ‘Telah aku kabulkan permintaanmu itu untukmu dan untuk umatmu.’

(Disadur dari buku JIBRIL Menjejak sang malaikat pembawa wahyu. terbitan Mizania.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s