Anting Termahal


Langit sudah gelap. Hampir memasuki waktu Isya’. Amal pun sadar bahwasanya putri kecilnya yang bernama Muna tidak ada di rumah. Dia bertanya kepada dua kakak-kakaknya yang masih di bawah usia 13 tahun itu, namun mereka tidak tahu. Amal kebingungan. Seingat dia putrinya masih bermain-main dengan anak-anak tetangga sore hari tadi di depan rumah. Amal segera angkat kaki keluar rumah. Tiap orang yang papasan dengannya di jalan, ditanyakan apakah ia melihat Muna.., tapi tidak ada yang tahu juga. Dia pun mendatangi rumah salah seorang tetangganya yang bernama Hana. “Hana, apakah kamu melihat Muna?  “Tidak.” Jawab Hana. “Apakah Suha tahu anakku ada dimana? Tanya  Amal  “Sebentar” Hana masuk ke dalam kamar Suha putrinya lalu keluar lagi dan berkata pada Amal, “Suha juga tidak tahu.” Dengan wajah yang penuh kekhawatiran Amal berkata, “Iya Muna hilang..dia tidak ada di rumah.” “Ya Sudah ayo kita cari bersama.” Kata Hana. Amal dan Hana pun segera bergegas mendatangi tetangga mereka satu persatu hingga banyak yang keluar bersama membantu Amal mencari putrinya. Sambil berjalan mencari dari satu tempat ke tempat lainnya Amal berteriak memanggil-manggil nama putrinya “Muna.. Munaaaa.”

          Perasaan Amal kompleks. Tidak tenang adalah hal yang paling tidak enak. Kenyamanan telah tercabut. Kekhawatiran telah menusuk-nusuk jiwanya. Tiada yang dapat dia pikirkan, kecuali hantu-hantu yang menyerang pikirannya dengan segala duga. Tanpa henti, dan tak mempedulikan siapapun, Amal tetap mencari anaknya itu berjam-jam, namun tanpa hasil.

          Tiba-tiba kakak Muna datang dan memanggil, “Mama.. Mama, Ayah menelepon dan menunggu.” Muna seakan tidak mendengar, namun setelah berulang-ulang kali dipanggil, diapun sadar dan kembali ke rumah menggandeng tangan anaknya. Sambil melangkahkan kaki Amal kebingungan, memikirkan apa yangkandia katakan kepada suaminya yang sedang bekerja di luar negeri itu. Dalam benaknya dia berpikir, mungkin kontak batinlah yang membuat dia menelepon di saat yang seperti ini.

Suami : “Halo, Assalamu’alaikum. Amal, apa kabar?”

Amal : “Wa’alaikum salam, baik.. baik suamiku.”

Suami : “Mengapa nafasmu seperti itu dan suaramu berubah.Adaapa?”

Amal : “Tidak.. tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja.”

Suami : “Apa kabarnya anak-anak?”

Amal : “Baik.. baik, ini semua ada.”

Suami : “Mana coba, saya mau bicara sama Muna.”

 

Muna adalah buah hati suaminya, karena puterinya yang paling kecil dan sedang lucu-lucunya. Amal bingung sekali, permintaan suaminya itu bagaikan peluru yang masuk membelah otaknya. Dia tidak tahu mau bilang apa, melainkan yang terlintas adalah, “Oh Muna sedang sakit sayangku, dia tidak enak badan, saya lagi tidurin.”

Suami : “Sakit apa? Khayr insya Allah.”

Amal : “Tidak apa-apa biasa saja… Cuma meriang panas dalam, saya sudah kompres dan kasih obat. Kamu sendiri bagaimana sayang… apa kabar baru darisana?”

Amal segera mengalihkan pembicaraan kepada topik lain. Percakapan dalam telepon itu pun terus berjalan, namun suaminya tetap mengetahui, ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya itu, yang membuat perasaannya tambah tidak enak.

Tiga hari tiga malam, Amal tidak bisa tidur. Baik wujud maupun kabar tentang Muna tak kunjung tiba. Semenjak hari-hari itu pula dia tidak dihinggapi rasa nyaman. Kerja di rumah tidak nyaman, makan tidak nyaman, mencuci pakaian tidak nyaman, mencuci piring tidak nyaman, menyapu tidak nyaman, mencuci perabotan di rumah pun tidak nyaman.

Namun shalatnya kini lebih lama. Karena Muna telah menjadi nampan doanya dan kedua tangannya yang terangkat, “Ya Tuhan, janganlah Kau biarkan kami seperti ini. Kuatkanlah diri kami untuk menerima segala yang terjadi. Ya Tuhan, apapun yang telah terjadi tampakkanlah kepada kami. Dan tabahkanlah hati dan jiwa kami, untuk tetap meneruskan hidup dalam ketaatan kepadaMu.”

Pagi hari esoknya, ketika cahaya surya belum juga menyengat. Tiba-tiba masyarakat setempat dibangunkan oleh suara teriakan seorang wanita yang disusul dengan teriakan orang banyak. Wanita itu telah menemukan jasad seorang gadis kecil dalam sebuah plastik sampah di pinggir got jalanan. Kepala gadis mungil itu terkoak hancur tertutupi bagian besar kepalanya dengan darah yang sudah menghitam kering membuat semua yang melihatnya shock dan sebagian lain muntah. Kedua bagian bawah telinganya juga sobek terluka sehingga pada sebelah bagian kemejanya juga terlihat banyak tetesan noda darah. Polisi datang kemudian salah seorang dari mereka pun memanggil Amal dan memintanya untuk mengidentifikasi mayat tak berdosa itu. Tatkala Amal melihat, dia pun langsung mengenal bahwa itu adalah putrinya..  pakaiannya adalah pakaian yang sama yang dikenakan Muna terakhir kali ia melihatnya. Diri Amal telah diselemuti kesedihan, detak jantungnya berhenti, otaknya terkunci, nafasnya hilang. Suatu hal yang jauh lebih parah dari yang ia duga, matanya melihat iba, hatinya terluka, jiwanya berduka, selamat tinggal sudah kabar gembira, telah tiba jasad tak bernyawa. Selamat datang hari-hari nestapa mengukir jiwa seorang ibu mulia yangkanselamanya terus bertapa.  

Sungguh bersamaan pemandangan itu telah membuat Amal atau sosok ibu manapun mati seribu kali. Dalam menitan Amal pun jatuh pingsan.

—————-

 

Setelah menganalisa mayat, ketua polisi mengetahui bahwa pembunuhnya tidak mungkin seorang pria dewasa. Sebab menurutnya, kalau itu pria, pasti dia hanya cukup dengan mencekik untuk membunuh anak kecil itu dan menarik antingnya. Juga bukanlah seorang kriminal yang sudah biasa melakukan kejahatan seperti pembunuhan. Berhari-hari dia serahkan segenap bawahannya untuk mencari bukti, dan pada saat yang sama tanpa ada orang luar yang mengetahui, dia memberi ciri anting yang hilang kepada setiap toko emas dan perhiasan dikotaitu. Dia meminta jika ada yang datang hendak menjual sepasang anting, agar ditahan dan segera laporkan kantornya.

Tiga minggu kemudian, ketua kantor polisi itu mendapat telpon dari salah satu toko yang mengabarkan bahwa ada seorang gadis datang mau menjual sepasang anting yang ciri-cirinya mirip. Polisi itu memintanya untuk mengulur waktu karena dia akan datang sekarang juga.

Sesampainya disanagadis itu terkejut karena dikepung beberapa polisi dan langsung ditangkap di bawa ke markas. Ketua polisi itu menanyakan dari mana ia mendapati anting itu. Gadis itu menjelaskan bahwa dia hanya diminta oleh sepupunya yang sedang sakit untuk membawa anting itu dan menjualnya. Saat ditanya siapakah sepupunya itu, dia menjawab Hana dan menyebut daerah tempat tinggalnya. Polisi langsung ingat bahwa Hana adalah ibunya Suha, teman dekat korban dan tetangga Amal.

 

Tanpa banyak menjelaskan, polisi dan kawan-kawannya bergegas pergi mendatangi kediaman Hana. Sampai disana, Hana terkejut dan langsung ditangkap. Pada mulanya dia seakan pura-pura tidak tahu atas dasar apa polisi datang dan menangkapnya namun ketika dia melihat sepupunya, dia tidak bisa menutupi apa-apa lagi dan langsung jerat jerit menangis dan menyatakan bahwa, “Saya tidak bermaksud membunuhnya, sumpah saya hanya niat mengambil antingnya. Saya sudah banyak hutang, saya malu, saya telah kesurupan setan…” polisi tetap membawanya mengurung sampai tiba saatnya dia diinvestigasi jaksa.

Menurut pengakuan Hana saat investigasi, peristiwa itu terjadi sebagai berikut;

Muna sedang bermain dengan Suha memakai anting emas berlian yang menyilaukan mata Hana.  Sementara kedua putri kecil asyik bermain, mata Hana hanya tertuju pada antingnya Suha dan pikirannya terkotori dengan keadaannya yang susah dan suaminya yang sibuk namun tidak bisa membantu kebutuhan rumah tangga, hutangnya juga sudah melanda. Tak lama kemudian Hana meminta supaya Suha bermain depan rumahnya demi menggiring Muna. Ketika mereka sudah dekat pintu rumah, Hana pun menariknya masuk, menjorokan Muna lalu mencoba mengambil antingnya. Suha langsung menangis melihat perlakuan aneh ibunya terhadap Muna. Muna berontak dan nangis tidak mau antingnya dicopot. Hana tetap bersikeras, mencoba menarik lagi dan menyakiti telinga Muna. Suha menagis tambah keras namun dibentak dan suruh masuk kamar oleh ibunya. Muna juga akhirnya berteriak menangis dan bersumpah akan mengadu kepada ibunya. Hana kehilangan akal dan terjangkiti rasa malu kalau kejadian ini sampai ke telinga orang lain. Akhirnya dengan cepat dia mengambil batu bata yang ada di dekatnya lalu menghantam kepala Muna berkali-kali hingga ia mati. Setelah mencabut anting si anak, Hana mengambil plastik sampah yang berwarna hitam lalu memasukkan Muna ke dalamnya. Dia menunggu langit gelap, kemudian ketika kebanyakan orang sibuk menunaikan shalat maghrib dia pun menunggang keledai dan membawa plastik itu hingga beberapa kilo lalu membuangnya di daerah yang kotor banyak sampah itu. Segera dia kembali ke rumahnya dan tak lama kemudian datanglah Amal mengetuk pintu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s