Hidup dan mati ingin bersamamu.

21 Ramadhan 40 Hijriah.
Setelah menguburkan ayah mereka, al-Hasan dan al-Husain beserta saudara2nya berjalan pulang. tiba-tiba perhatian mereka terpanggil karena melihat orang tua yang sedang merintih sedih karena sakit tanpa ada penyembuh ataupun penolong.
Kedua pemuda ahli surga itu pun bertanya; wahai pak tua, mengapa engkau sampai menangis dan merintih, apa yang sebenarnya kau rasakan?
Pak tua menjawab; saya seorang yang asing dan tak punya, bahkan buta tanpa penolong kecuali seorang pria penyayang yang tiap hari datang membawa makanan dan membantu hajat2 saya, namun sekarang sudah tiga hari dia menghilang.

Al-Hasan; siapakah namanya ?
Pak tua; saya tidak tahu.
Al-Hasan; mengapa kau tak tanya namanya?
Pak tua; sudah aku tanya, tetapi kata dia ‘tidak perlu kau tahu namaku karena aku menolongmu karena Allah Yang Maha Suci’.
Al-Hasan; seperti apakah ciri-cirinya ?
Pak tua; saya tidak tahu karena saya buta.
Al-Hasan dan saudara2nya: kalau begitu bagaiamana sifat2nya?
Pak tua: aku mendengar lisannya selalu sibuk bertasbih dan bertahlil sehingga seakan bumi dan langit beserta zaman pun ikut bertasbih bersamanya. Dan saat ia duduk bersamaku aku mendengar dia berkata, “seorang miskin yang duduk bersama seorang miskin. Seorang asing duduk bersama seorang asing.”
Sampai di situ jelaslah bagi al-Hasan, al-Husain, dan saudara2nya bahwa orang tersebut adalah ayah mereka sendiri, maka mereka bersama segera mengabarkan; “wahai pak tua, orang yang engkau sebut itu adalah Amirul Mu’miniin Ali bin Abi Thalib (ayah kami).”
Pak tua; lalu apa yang terjadi padanya, mengapa dia sudah tiga hari tidak mengunjungiku lagi ?
Putra2 Ali; sungguh dia telah pergi ke sisi Tuhannya karena seorang celaka telah memukul kepalanya dengan pedang sedang kami baru saja kembali dari penguburannya.”
Seketika itu juga pak tua tak tahan berteriak dengan tangisan pedih dan merintih lebih parah lalu dengan berat berkata, “gerangan siapa diriku sehingga sang Amirul mu’minin sudi mendatangiku. Mengapa dia dibunuh???”
Al-Hasan dan al-husain terus berusaha menenangkannya dan membuatnya mereda dengan menggandeng pak tua dan menuntun ke kuburannya.
Sesampainya di depan kubur, pak tua langsung menjatuhkan dirinya ke atas kubur seraya berdoa, “Ya Allah aku tak tahan dengan kepergiannya, maka demi ahli kubur ini lekaskanlah pencabutan ruhku.” Dan doanya pun terkabul, seketika itu juga ia wafat. Putra2 Ali pun menangis lagi melihat pak tua yang sudah pergi bersama ayah mereka. Maka segera ia dimandikan, dikafankan, dishalatkan lalu dikuburkan dekat amirul mu’miniin.
Inna lillaah wa inna ilayhi raajiuun

Ref: Raudah al-shuhadaa ha.l 172, masaaib aal muhammad bab 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s