Ada apa dengan Wanita ?

Image

Pikiran saya tidak dapat menghasilkan buah dari tangkai pengetahuan yang tersebar tak terarah di benak. Yaitu mengenai makhluk  yang katanya dari jenis manusia dan dalam istilah bahasa disebut Wanita;

Ada apa dengan wanita

Semakin cinta semakin gila

Semakin sayang semakin ganyang

 

Kita santai dia resah

Kita gelisah dia marah

Kita pegal dia kesal

Kita mikir dia mungkir

 

Kita menjauh dia mendekat

Kita mendekat dia menjauh

Kita mau berangkat

Eeh dia tambah melekat

 

Kita jemu karena sesuatu

Dia kira ada yang baru

Kita Mencoba menghibur diri

Ehh Cemburunya tambah jadi.

 “Sebenarnya perempuan tidak banyak mau,

     Cuma butuh cinta dan kasih sayang saja.”

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pengakuan tersebut. Sebab dengan nyata dapat terlihat bahwa wanita jauh lebih butuh untuk mencintai ketimbang dicintai walau mungkin tidak mereka sadari. Lagipula kemauannya seakan tidak pernah berakhir. :)) 

(Seorang bapak ditanya oleh anaknya;

“yah Ayah waktu menikah dengan ibu mas kawinnya berapa waktu itu?

“Waduh gak tau nak, perasaan mas kawin dan nafakah lahir batinnya sampai sekarang sudah 42 tahun juga belum lunas-lunas”)

kembali ke topik;

Kalau dia tidak sebegitu cinta pada pasangannya maka semua akan tertumpahkan pada anaknya.

Jika dia sudah dapat mencintai, maka benar yang dibutuhkannya adalah perhatian dan kasih sayang. Tapi sayangnya keduanya itu tidak dapat dipenuhi oleh pria manapun.

Mengapa..? karena sepertinya, ketika wanita mencintai, semua perhatian dan kasih sayangnya tertumpahkan pada sosok yang dicintainya itu. Tanpa dia sadari, dia selalu mengharapkan hal yang sama dari suami atau pria yang dicintainya.

Sementara pria, walau bisa jadi dia sangat cinta, tapi perhatian tidak bisa hanya tertumpahkan pada wanitanya itu. Jadi jika wanita tidak bisa memahami watak dan cara berfikir pria, maka dia takkan pernah terpuaskan dan mengira bahwa lawan cintanya tidak begitu perhatian dan kurang yakin atas rasa sayangnya.

Tapi mungkin memang susah bagi wanita untuk memahami pria karena sepertinya kesenangannya adalah jika dia dipahami tanpa harus memahami.

Saya hanya hendak mencoba mengajak berfikir. Mungkin saja semua analisa di atas salah.

Jadi apakah bisa disimpulkan bahwa dalam berhadapan dengan wanita yang mencintai, seorang pria harus pintar bersandiwara dan jangan terlalu mengharap untuk dipahami oleh wanitanya.

Sebagai contoh; Ketika istri marah, kita laki-laki seringnya berusaha keras memberi  argumen dan alasan  untuk menyadarkannya, tetapi seringnya usaha seperti itu malah tidak berhasil. Namun sebaliknya, jika anda terima kesalahan (walau saat Anda benar) dan mendengar ambekan atau omelannya kemudian anda tunjukkan penyesalan dan seakan ikut merasakan seperti menganggap diri Anda orang ketiga maka biasanya itu lebih berhasil dan setelah itu biasanya kita fahami bahwa sebenarnya segala yang dia ungkapkan adalah bukan yang sebenarnya, melainkan ada udang di balik batu yang mungkin sudah berkumpul untuk keluar…angkatlah batu itu maka akan menjadi jelas bagi anda. Mungkin Pria harus mempunyai ribuan trick untuk menyenangkan wanitanya. Tanpa ragu saya percaya bahwa setiap pria harus punya siasat (kode etik/taktik khusus–tidak harus berkonotasi buruk) untuk selalu menyenangkan wanitanya. Oleh karena itu tidak heran kalau terpaksa harus bohong pun ditoleransi dalam hal ini. tapi pada saat yang sama, sepertinya lebih mudah bersiasat menghadapi musuh atau preman ketimbang siasat membaca pikiran lawan jenis ini. Tidak heran kalau Sigmund Freud pernah berkata, “The great question that has never been answered, and which I have not yet been able to answer, despite my thirty years of research into the feminine soul, is “What does a woman want?”
coba tanya pada Mel Gibson kali ya!

Sepetinya wanita yang sudah mencintai selalu merasa kurang dicintai. Dan wanita yang kurang mencintai merasa dicintai disayangi dan memahami. Aneh gak tuh?

Masalah ini memang kompleks bin ruwet. Situasinya berbeda-beda dan tidak ada yang mungkin menciptakan rumus khusus yang detail mengenai masalah hubungan atau kisah kasih dua gender ini.

Kata FRIEDRICH NIETZSCHE;  In revenge and in love woman is more barbaric than man.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s