ZEYNA & IFFRIT (WANITA vs SETAN)

Zeyna

                                                                        Zeyna

Kisah wanita dan setan beradu tipu daya.

Salim dan Farah adalah sepasang suami istri yang saling mencintai dan semua masalah yang muncul selalu mereka lalui dan abaikan dengan rasa penuh kasih sayang walaupun saat emosi. Sebegitu idealnya mereka sehingga menjadi idola setiap keluarga di desa.

Salim bekerja sebagai tukang jahit yang mempunyai toko sendiri di ruko pasar desa, sementara Farah menjadi ibu rumah tangga yang sibuk dengan pekerjaan rumah dan membantu merapikan hasil jahitan Salim yang ringan-ringan.

Saat ini sekitar jam 2 siang dan Salim sedang menjahit sambil menghadap pintu kaca tokonya melihat orang-orang yang berlalu lalang.

Di bagian seberang toko yang tersembunyi dari pandangan Salim, terjadi pertemuan antara Zeyna dan Ifrit.

Zeyna adalah seorang wanita petualang yang berilmu dan dapat melihat makhluk halus karena di masa kecilnya sebagai anak yatim yang juga ditinggal ibunya, dia pernah jatuh ke sumur kering tanpa ada yang tahu selama sehari semalam dan akhirnya di pagi hari kedua dia bangun di halaman panti asuhan dan tidak tahu siapa yang menolongnya.

Adapun  Ifrit adalah setan lulusan Universitas Tinggi Persetanan Pasar Tanah Abang yang kini bertugas magang menggoda orang-orang di pasar desa itu.

Zeyna: “hei setan, ayo kita taruhan.”

Ifrit: “taruhan apa? “

Zeyna: “siapa diantara kita yang bisa berhasil membuat tukang jahit itu cerai dengan istrinya.”

Ifrit: “pemenangnya dapat apa ? 

Zeyna: “yang kalah menjadi budak si pemenang selama satu tahun.”

Ifrit: ” oh jadi kalau aku menang kamu mau menjadi budakku dan harus mau disuruh apa saja selama satu tahun?”

Zeyna: “Iya, tapi ingat, kalau kamu kalah juga harus siap!”

Mereka berdua pun saling bersumpah untuk menepati janji. Zeyna bersumpah demi Tuhan sementara Ifrit demi nyawa dirinya.

Ifrit: “jadi sekarang siapa yang akan mencoba duluan ? ayo kamu sajalah  kan biasanya ‘ladies first'”

Zeyna: “karena tantangannya dari saya, maka kamu yang harus mencoba dahulu.”

“Baiklah.” Ifrit menyebrang dan langsung merubah rupa menjadi seorang gadis cantik berusia sekitar 17 tahun yang masih memakai seragam SMA dan memperlihatkan tubuhnya yang seksi dengan baju putih ketat dan rok abu-abu yang terangkat.

Seakan baru pulang sekolah dia masuk lenggak lenggok dan pura-pura melihat bahan-bahan yang terpajang di sekitar dinding toko. Salim menengok dan tetap melanjutkan kerja. Karena tidak membuat Salim bangkit dan mendekat demi melayani, Ifrit sadar bahwa dia harus memakai jurus kedua. Sekarang dia pura-pura melihat dan menyentuh kehalusan bahan yang agak tinggi di atas. dia menjingkakkan kaki dan menjulur tangannya ke atas sehingga lebih mengangkat rok pendeknya seraya bertanya;  “pak, yang ini berapa permeternya?

Salim menengok dengan menjaga pandangan namun tetap ada yang terlihat begitu menggoda. Dia cepat menjawab dan menundukkan kepala, “ itu 200 ribu permeter.” 

Ifrit: “iya boleh deh saya mau dibuatin gaun panjang buat pesta.”

Salim menarik nafas panjang dan bangkit demi mengambil bahannya dan terlintas di benaknya bahwa dia juga harus mengukur tubuh gadis seksi ini.

Salim mendekat mengambil tongkat besi untuk menarik bahan itu ke bawah. Ifrit tidak menyingkir, dan ketika Salim menaikkan tangan mengangkat tongkat, dia lekas-lekas melangkah mencoba memegang bahan lainnya yang berada di balik tubuh Salim dengan pura-pura tak sengaja menyentuhkan buah dadanya ke bagian belakang tubuh Salim dan berkata, “Oh sebentar! kalau yang warna merah ini berapa?”

Detak jantung Salim berhenti sejenak. Sekujur tubuhnya merinding. Matanya terpejam dan benaknya mulai terserang.

“yang itu sedikit lebih mahal, 230 ribu permeter.” 

“oh ya sudah yang ini sajalah.” Kata Ifrit tanpa menyingkir dari tempat. 

Salim hendak mengambil bahan itu sementara mata Ifrit melihat-lihat sekitar namun tidak melangkah sedikit pun. Salim melihat arah pundaknya sambil batuk supaya dia diberi ruang untuk mengambil kain. Mendengar batuk salim, si gadis menengok dan melihat langsung ke bola mata wajah Salim dan menyerang pandangan dengan senyuman manis yang menggatelkan sambil melangkah demi memberi ruang.

Salim melihat serangan tatapan itu dan wajahnya seketika menjadi beku.

Dia pun beristighfar dalam hati dan mengambil kain.

Kini adalah bagian tersulit bagi salim. Dia harus mengukur tubuh si gadis.

Ifrit juga berfikir ini adalah bagian yang paling menentukan. Rencana dia adalah supaya Salim tak kuasa menahan nafsu dan mulai menyerangnya untuk mencoba melampiaskan hasrat supaya tatkala Salim sudah dikuasai nafsu, maka dia akan berusaha menjauh dan menolak agar Salim kehilangan akal dan terpaksa harus memperkosanya. Ketika dia berhasil sampai membuat Salim memperkosa, maka kabarnya akan tersebar dan Istri Salim akan malu sehingga terpaksa meminta cerai dan meninggalkannya. Begitulah target si Ifrit.

Kini salim membentangkan bahan dan terdiam saja dengan wajah agak tegang.

“ayo deh pak, ukur saya!”

Salim mengambil meteran. Sementara gadis Ifrit berdiri menegakkan badan.

Salim memulai dari bagian bahu kiri sampai ujung tangan.

Gadis mengibaskan rambutnya dan menyerbakkan aroma perfume yang membius penciuman Salim. Dia menarik nafas dan merasakan ketegangan tingkat tinggi.  Gadis mengangkat tangan untuk diukur bunderan pergelangan lengan. Aroma semakin menyerang. Salim tetap berjuang menahan sampai selesai mengukur hingga dengkul. Ifrit mulai heran dengan kekuatan Salim yang masih juga belum berusaha menyambut godaan. Kini bagian lebar dada. Kedua tangan dinaikkan lagi keatas layaknya seperti seorang yang hendak disalib pasrah dan memasang wajah genit yang mengundang luapan hasrat. Dihadapannya salim berdiri menaruh meteran dengan kedua tangan ke arah punggung gadis seperti pose yang mau memeluk dan menyambungkan meteran dengan kedua tangan. Gadis malah memperlihatkan belahan dada seraya berkata, “saya mau yang agak ketat ya pak” sambil senyum dan supaya tangannya menyentuh. Salim dengan sangat hati2 memperketat lingkar meteran. Sesampainya di situ, Gadis langsung memajukan dada dan menyetuhkan pada kedua tangan Salim.

Tak disangka tiba-tiba Salim malah spontan melepas meteran dan langsung mundur seraya cepat-cepat mencatat ukuran di buku lalu berkata, “Sudah neng, ukurannya sudah lengkap..sekarang saya mau kasih bonnya. Biayanya jadi 620 ribu sama ongkos jahit. Jadinya minggu depan ya.”

“oke deh..tapi jangan telat ya, soalnya tanggal 16 saya mau pakai buat hadir pesta.” Iffrit tidak tahu latar belakang Salim yang pernah berguru pada Qurays Shihab dan A A Gym selama 2 tahun dan masih sering hadir majelis ta’lim.

Saat itu juga Ifrit sadar bahwa ternyata usahanya sia-sia dan jurus favorit yang biasanya selalu efektif kali ini tak berguna. Dia tahu bahwa usahanya untuk sampai ke titik perceraian jauh lebih sulit dan harus dengan taktik yang lebih rumit.

Ifrit keluar toko dengan wajah kecewa sementara Zeyna tersenyum melihat tanda kegagalan itu.

“kini giliranku. Lihat!” kata Zeyna.

Dia pun menyebrang dan masuk ke toko. Dia melihat-lihat sampai Salim bangkit mengampiri dan bertanya;

“ ada yang bisa saya bantu?

Zayna: “iya, saya mau bahan yang paling bagus. Seukuran 3 meter.”

Salim: “mau warna apa?”

Zayna: “Warna yang terang dan ceria. Bukan untuk aku. Permohonan saudaraku, dia mau menghadiahkan kekasihnya yang berusia sekitar 30an. Sebenarnya saya agak keberatan untuk memilih karena sepertinya kekasihnya itu bersuami tetapi mengaku janda.”

Salim tidak begitu mengambil pusing cerocosan Zeyna.. tetapi dalam hati dia berkata, “ aduh kenapa jadi aneh2 gini yang datang ke toko hari ini… tadi gadis gatel, sekarang perempuan gila.. bukan menasehati abangnya tapi malah sudi membelikan bahan buat perselingkuhan.”

Salim: “bagaimana yang warna merah marun ini, Cuma agak mahal karena bahan impor dari Kashmir?”

Zeyna: “oh iya bagus, berapa?”

Salim: “permeter 400 ribu, 3 meter jadi sejuta dua ratus.”

Zeyna: “sejuta deh.. kasih ya”

Salim: “sejuta seratuslah..untung saya juga tidak banyak.”

Zeyna: “baiklah.”

Setelah bayar Zeyna pamit dan keluar toko.

Dia langsung pergi menuju rumah Salim. Ifrit mengikuti sambil mengamati dari awal.

Zeyna mengetuk rumah Salim, lalu istrinya membukakan pintu.

Zeyna; “salam alaikum,”

Farah : “wa alaikum salam”

Zeyna: “maaf bu, saya dari luar kota, kalau boleh saya mau numpang shalat, soalnya sudah mau maghrib dan perjalanan masih jauh.”

Farah: “ooh iya boleh silahkan mari masuk.”

Zeyna masuk sementara Farah menyiapkan sejadah di ruang tamu.

Setelah shalat secara diam2 Zeyna menaruh bungkusan bahan itu di sisi kursi sofa. Lalu dia bergegas mau keluar.

Farah: “gak mau ngeteh dulu bu ?

Zeyna: “aduh terima kasih bu. Saya buru2, maaf sudah mengganggu.”

Farah: “dengan senang hati, ini ada kue bolu masih hangat.. enak buat di perjalanan.”

Zeyna: “ya ampun ibu pake repot2. Terima kasih banyak bu.”

Diapun keluar dan hatinya tersentuh dengan kebaikan Farah.

Di luar Ifrit sudah menunggu. “bagaimana.. apa sih yang kamu lakukan?

Zeyna: “sudah lihat saja sebentar lagi.. ayo kita tunggu sambil sembunyi di belakang rumah.”

Tidak lama kemudian Salim pulang kerja dan sampai di rumah. Terdengar dia minta teh, dan Farah pun juga menyuguhkan kue bolu dan pisang goreng.

Mereka baik-baik saja sementara si Setan Ifrit memandang Zeyna dengan penuh tanda tanya. Zeyna mengisyaratkan dengan telunjuk jari untuk diam dan tunggu saja. Sekitar 10 menit kemudian terdengar Salim jerat-jerit marah luar biasa seraya mempertanyakan soal bahan yang disembunyikan di sisi sofa. Farah terkejut luar biasa melihat Salim seperti mau meledak. Belum sempat dia menjelaskan tiba-tiba terdengar suaminya berteriak; “Saya cerai kamu… saya cerai kamu Farah!! Sana kau tidur di kamar tamu saya tidak mau melihat kau lagi dan besok saya antar ke rumah orang tuamu.”

Ifrit terkejut dan lemas.., “Waduh setahun jadi budak. Gila kamu Zayna..saya tidak sangka kau bisa berhasil di malam ini juga.”

Zayna: “Jangan heran kalau dalam kitab suci dinyatakan bahwa tipu daya wanita itu dahsyat. Sekarang lihat, saya akan mengembalikan mereka menjadi lebih baik dan lebih mesra.”

Iffrit: “eh jangan gak usah biarkan saja..!”

Tidak dihirau Zeyna langsung kembali ke depan dan mengetuk rumah Salim lagi.

Farah sedang menangis tersedu-sedu dalam kamar maka Salim yang membukakan pintu.

Zayna: “Salam alaikum… loh ini rumah bapak?

Salim tanpa menjawab salam dan dengan wajah merengut dan siap menyerang menjawab, “ Iya”.

Zayna, “ya Ampun maaf pak tadi saya numpang shalat di sini lalu bahan yang saya beli dari toko bapak ketinggalan di ruang tamu.”

Salim menarik nafas panjang dengan lega, “ooh sebentar..”

Dia masuk ke dalam lalu kembali dengan memberikan bahan tersebut.

Zeyna: “terima kasih pak, salam pada istri bapak.. dia baik sekali mashallah tadi saya diizinkan shalat dan dibungkusankan kue bolu. Bapak juga baik. Yuk pak makasih.”

Salim: “sama-sama bu.”

Zeyna kembali ke belakang rumah menemui Ifrit. Terdengar Salim mengetuk pintu kamar Farah seraya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas burung sangka. “maaaaf saayaaangku, keluarlah aku ingin memelukmu..nanti aku ceritakan kenapa aku sampai marah. Aku tidak jadi dan takkan pernah sudi menceraikanmu.”

Zeyna melihat Iffrit yang sudah terlihat melas karena akan diperbudak selama setahun penuh lalu dia mengedip mata keberhasilan pada si iffrit.

Saat ini sudah sebulan berlalu, sekarang Iffrit sedang ditugaskan ke Bogor sementara Zeyna lagi nyari bahan baru di pasar baru.

 

kisah diatas adalah remake dan elaborasi dari hikayat kuno. Semua nama dan kejadian tersebut adalah fiktif. bisa jadi nyata kalau ada yang tiru, tapi saya tidak tanggung jawab. 

To be continued..  kalau ada waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s