Tidak bisa kau penjarakan tuhan dalam agamamu, kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu!

penjara agama

Dahulu saya pernah membaca sebuah riwayat bahwa di zaman Nabi Isa ada seorang ahli pahat yang menyembah tuhan berupa patung wanita yang dia buat sendiri. Tiap ada hajat dia duduk bersimpuh dan berdoa pada si patung. Permintaannya terus terpenuhi. Hal itu membuat para malaikat langit bingung dan bertanya kepada Tuhan; “Ya Allah, orang itu adalah musyrik yang menyembah tuhan buatan tangannya sendiri, namun mengapa Engkau kabulkan permohonannya?  Allah SWT menjawab: “kalau Aku tidak kabulkan maka apa bedanya Aku dengan Patung itu?!”

Saya pun sadar bahwa Tuhan Yang Maha Mengetahui selalu bertindak sesuai kebijaksanaan-Nya, maka hati-hatilah dari pemahaman kita tentang-Nya, kadang ia menjadi tirai yang malah menjauhkan kita dari-Nya. oleh karena itu hadis menyatakan bahwa “awal agama adalah mengenal-Nya”, yakni hal pertama yang harus dipelajari adalah ma’rifat tentang-Nya dan mungkin juga berarti jika seseorang belum mengenalnya maka ia belum beragama. Tentu makna mengenal bukanlah hanya mengetahui nama panggilan-Nya. Dari kisah singkat itu saja saya jadi tahu tanpa ragu bahwa diri ini masih berada di minus jauh dari titik kosong ke angka satu dalam agama.

Nabi Ibrahim terkenal senang menjamu tamu dan tidak suka makan sendiri. Suatu waktu saat safar beliau hendak menyiapkan makanan dan tiada yang menemani, tiba2 terlihatlah seorang pejalan maka beliau ajak makan bersama. Tatkala beliau menyiapkan api, orang tersebut langsung sujud menyembah api. Nabi Ibrahim kesal dan menegurnya, mengapa kau menyembah api dan tidak menyembah Tuhan yang Maha Esa, lalu beliau mengusirnya. Setelah orang tersebut pergi, turunlah wahyu kepada sang Nabi, “wahai Ibrahim, puluhan tahun Aku memberinya makan dan rejeki tanpa memaksanya untuk menyembahKu, sementara kau mendapat kesempatan satu kali ini tetapi kau usir dia.”  Wahyu itu terasa bagai petir pada hati sang Nabi, beliau menangis dan segera bergegas mengejar orang tersebut. Ketika sampai ditemukan beliau meminta maaf sebesar-besarnya dan memohon supaya dia sudi kembali menikmati makan bersama.

Si musafir heran dengan perubahan sikap Ibrahim. Dia tanyakan, “tadi kau marah dan mengusirku, kini kau memelas dan mengundangku. Gerangan apa yang membuatmu berubah?”  Nabi Ibrahim ceritakan apa yang terjadi dan kemudian orang tersebut tersentuh dan mengatakan, “Tuhanmu menyebutku dan sayang padaku?  ajarkan aku tentang agamamu.” Dan akhirnya diapun masuk ke dalam agama Ibrahim alayhis salaam haniifan musliman.

Suatu waktu orang kafir yang biasa mengejek dan melempar kotoran kepada Nabi Muhammad tidak terlihat, beliau menanyakan keadaannya dan ternyata dia sakit. Maka beliau kunjungi dan memberi bunga. Lihatlah betapa indahnya budi pekerti beliau. Orang kafir itu pun akhirnya beriman. Tetapi jangan sangka tujuan Nabi mengunjunginya itu adalah dengan misi supaya orang tersebut menjadi muslim, tidak! Beliau melakukan kebaikan itu murni karena Allah dan sebagai implementasi rahmatan lil alamiin karena beliau diutus sebagai rahmat untuk semua yang berada di alam semesta yang mana mencakup semua makhluk dan tidak sebatas yang beriman saja.

Kaum Yahudi sudah terkenal dengan permusuhannya terhadap agama Islam dan Nabinya. Seperti yang di Madinah, walau mereka tahu siapa Muhammad tetapi mereka tidak sudi beriman karena tidak rela mendapati Nabi terakhir yang dijunjung dan diberitakan dalam kitab suci taurat ternyata bukan dari bangsa mereka. Namun bagaimanapun juga ketika jenazah seorang yahudi digiring menuju kuburan, Nabi Muhammad bangkit dari majlisnya sampai jenazah itu berlalu dari pandangan sehingga sebagian sahabat heran.

Nabi tidak bangkit untuk menghormati akidah atau agama jenazah tersebut. Beliau tidak bangkit untuk tabiat dan perilaku mayit tersebut. Beliau bangkit sebagai manifestasi rahmat yang menyeluruh dan mayit itu sedang berjalan pulang kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Terlepas pulangnya itu dengan melalui azab atau pun anugerah.  

Kalau mempelajari ajaran beliau perihal hukum2 peperangan maka kita akan akan mendapati rincian kasih ilahi yang tetap terjaga dimana tidak boleh memulai dan bahkan tumbuhan dan pohon2 saja hendaknya jangan sampai rusak, apalagi membunuh kaum wanita dan anak2 atau tawanan.

Ingat bagaimana Sayyidina Ali bin Abi Thalib ketika berduel dengan Amr Ibn Abdiwudd sang jagoan kafir dalam perang khandaq, saat dimana Amr sudah jatuh dan hendak diakhiri hayatnya oleh Ali, tiba2 dia meludah dan Ali pun tidak langsung menghabisinya namun malah berhenti dan melangkah mundur sejenak kemudian baru menuntaskan Amr. Ketika para sahabat tanyakan akan perilaku aneh tersebut beliau jawab, “saya melangkah mundur sejenak demi menenangkan amarah karena dia meludahi, saya tidak mau tebasan saya tercampuri dengan emosi dan menjadi tidak murni karena Allah.”

Begitupun juga saat Ibn Muljam ditangkap setelah menghantam kepala Ali dengan pedang saat shalat sampai terbelah dan wajah berlumuran darah, pertama yang beliau perintahkan adalah untuk mengendorkan tali yang memborgol Ibnu muljam karena dilihatnya terlalu kencang, kemudian beliau mewasiatkan anak2nya AlHasan dan Alhusain untuk menjaganya dari balasan amarah umat dan menerapkan qisas sesuai syariat tanpa menyiksanya, bahkan meminta anak2nya supaya memberikan makanan yang sama ke penjara dengan yang dihidangkan untuknya.

Semua riwayat2 dan pelajaran sejarah seperti itu sampai pada telinga dan mata kita bukan sekedar untuk dikagumi, tetapi memberi pelajaran dan contoh perilaku sosok-sosok yang benar-benar memahami agama dan bagaimana menerapkannya untuk mencapai kerelaan Tuhan.

Ingatlah masa awal diutusnya Rasulullah saat memasuki kota Thaif. Penduduk kota itu menyambut beliau dengan melempari batu-batu sehingga beliau dan para sahabat terluka. Para malaikat pun turun dan meminta izin kepada Rasulullah untuk menolong dan gunung2 bisa dibalikkan dan ditimpakan ke atas mereka, namun Nabi Muhammad melarang dan berkata sesungguhnya mereka adalah kaum yang belum mengetahui dan belum mendapat hidayat.

Sadarkah kita bahwa para utusan Tuhan kapan saja dapat meminta bantuan langit menghabisi musuh-musuhnya namun mereka lebih memilih bersabar dan toleransi. Bahkan berkorban dengan diri dan keluarga dalam menjunjung kasih sayang Ilahi dan meraih puncak kerelaan-Nya. Tidakkah terlihat jelas bahwa agama yang mereka bawa adalah agama Cinta.  

Tulisan ini tidak ditulis untuk memaksa ide mempersatu aneka ideology. ataupun ide hidup damai tanpa agama, keduanya mustahil dan hanya menambah agama baru. Tulisan ini tidak juga untuk menomor-duakan kepercayaan, atau memisahkannya dari kehidupan sosial Tidak! Tulisan ini sekedar upaya mengingatkan bahwa agama yang benar pastilah bukan agama yang “memenjarakan” tuhan di dalamnya. Agama yang benar bukanlah agama yang membunuh sesama manusia karena beda Nabi atau beda ras, agama yang benar bukanlah agama yang menjunjung fanatisme buta, agama yang benar bukanlah agama yang menebar kebencian.

Agama yang benar adalah agama yang menerapkan rahmat untuk semua, sehingga kasih sayang pada sesama selalu terasa walau masing-masing punya kepercayaan yang berbeda. 

Ingatlah ayat Al-Qur’an yang berbunyi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang BERIMAN, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Albaqarah 208)

Jujur dan kembalilah pada diri masing2, walau kita sudah merasa mengenal Nabi dan megetahui kitab suci yang penuh mukjizat ilahi, namun apakah Anda yakin bahwa pemahaman di benak kita ini dan semua aksi kita bisa menjadi representasi agama Tuhan yang sebenarnya? 

Coba kembali pada diri sendiri dan cermati, apakah agama yang mungkin sekedar kita dapati dari warisan keluarga dan lingkungan (bukan dari hasil pencarianadalah agama yang terbenar dan selalu berperan menebar rahmat ataukah merintis fanatisme sektarian dan kebencian pada yang lain? Coba kita lepas busana kefanatikan, renungkan dan masuklah ke dalam hati, mungkin sampai saat ini yang kita dapati masihlah penyembahan terhadap diri sendiri.  — mungkin akidah kita yang sebenarnya kita anut sekarang adalah syahadat ‘Selfie tiap Hari sampai Mati’ ?!? Nastaghfirullah

Sungguh betapa kita ingin hidup damai dan tentram belajar dan bekerja sama demi menciptakan kesejahteraan namun masih saja sampai sekarang kita harus melihat permusuhan, peperangan, penindasan dan penumpahan darah antara sesama manusia dengan meng-atas-namakan agama dan kepercayaan.

Coba bukalah sejarah dan lihatlah bahwa Nabi selalu berperang untuk membela diri dan tidak pernah memulai perang demi menaklukkan agama lain. Bahkan saat mendapat tekanan keras dari kaum pagan Makkah beliau mengutus kerabat dan sahabat untuk ke Habasyah (Etiopia) karena rajanya Adil dan menganut agama wahyu Kristiani. Lalu banyak muslimin yang mengungsi hidup damai di sana.

Begitupun juga di kemudian hari setelah beliau mendirikan pemerintahan Islam pertama di Madinah, Umat agama lain seperti yahudi, kristiani dan lainnya hidup damai dan terlindungi di bawah pemerintahan beliau.

Saksi terbesar adalah saat fathu Makkah (penaklukkan Makkah di tahun 7 hijriah), dimana jumlah muslimin sudah jauh lebih besar dan kekuatannya tidak terkalahkan, ketika ratusan ribu umat berbondong-bondong hendak masuk Makkah yang masih penuh dengan para penyembah berhala, sebagian meneriakkan kepada orang-orang kafir yang dahulu mengusirnya “Hari ini adalah hari pembalasan. Al-yaum yaumul malhamah”, Nabi segera menegur dan melantangkan semboyan ,”al-yaum yaumul marhamah hari ini adalah hari merahmati dan memaafkan.”

Jadi wahai para pengaku umat beragama, apapun namanya; Budha Hindu Yahudi Kristen Katholik Protestan Islam Sunnah Syiah Dursi Sufi Salafi dll, sungguh agama yang kau anut adalah sesuai pemahamanmu dan belum tentu sesuai yang Tuhan Mau. Namun satu hal yang pasti; Agama adalah untuk mengenal dan mendekat kepada Tuhan, bukan untuk membatasi-Nya! 

Satu lagi kawan; jangan coba kau bawa-bawa agama dan tuhan demi nama suara harta dan tahta nanti ada siksa yang luar biasa! karena Agama bukanlah baju, bukan wajah, bukan rumah, bukan bahasa, bukan warna, bukan suara, dan bukan kata-kata. Agama adalah cahaya yang dengannya bisa kau sinari itu semua dan upaya mensejahterakan sesama ciptaan Sang Maha Esa.

–  –  –

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ

Tidak ada paksaan dalam beragama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (QS: Albaqarah 256)

Selamat mencari dan meniti jalan yang benar!

Semua dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

image

Diantara rahasia mengapa kita harus memulai shalat dengan Takbir (Allahu Akbar/ Tuhan Maha besar) juga pada setiap gerakan adalah supaya penyembah ingat bahwa Tuhan itu lebih besar dari segala yg hamba pahami tentang-Nya, lebih besar dari semua pengetahuan dan segala yg terlintas dalam benak, bukan dgn makna lebih besar dalam arti bentuk dan ukuran karena dialah Sang Maha Musawwir (Pembentuk) yg tidak dibatasi ruang dan waktu atau apapun jua. betapapun tingginya tingkat spritual hamba hingga bahkan seorang Nabi tetap memulai shalatnya dengan takbir. karena Sang Maha Kuasa selalu lebih besar dari “pengetahuan/gambaran/pemahaman” makhluk-Nya.

5 comments on “Tidak bisa kau penjarakan tuhan dalam agamamu, kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu!

  1. Anonim mengatakan:

    ❤❤

  2. Syafiq Basri mengatakan:

    Masha Allah, tulisan yang bernas! Ijin men-share-nya kembali di blog ana ya.

  3. Syafiq Basri mengatakan:

    Reblogged this on sembrani.

  4. Anonim mengatakan:

    Beautiful!

  5. delbagir mengatakan:

    Beautifully done! Masya Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s